Situs Resmi Kecamatan Marga

Profil Desa

Desa-desa dalam Kecamatan Marga, beserta potensi dan sumber daya alamnya

Desa Tua

Posted by on Jul 11, 2013 in Profil Desa | 0 comments

Membicarakan masalah sejarah Desa memang sudah dari sejak jaman dulu , Sesungguhnya adalah merupakan masalah yang sangat sulit , rumit , ini disebabkan karena pada umumnya bukti – bukti tertulis jarang sekali ada . oleh karena itu untuk menyusun sejarah tersebut hanya bisa berdasarkan informasi – informasi yang diketahui seluk beluk tentang Desa tersebut.

Demikian pula halnya dengan Desa Tua yang juga tidak ada bukti – bukti tertulis yang dapat dipakai untuk menyusun sejarah Desa , data yang dapat dipakai untuk menyusun sejarah Desa Tua bersumber pada informasi dari orang – orang tua yang juga sebagian besar berupa cerita – cerita .

Jadi mengenai sejarah Desa Tua menurut cerita Ida Bagus Putu Gonjong dan I Made Jenek erat sekali kaitannya dengan Kerajaan Belaluan menurut beliau pada jaman dahulu ada sebuah kerajaan yang bernama Kerajaan Belaluan yang di perintah oleh I Gusti Ngurah Belaluan yang letaknya di Subak Belaluan sekarang . Kerajaan ini pada mulanya dikatakan belum mempunyai Ciwa ( pimpinan agama ) , sedangkan pada saat itu ada Brahamna yaitu di daerah Kebon yaitu disebelah barat laut kerajaan Belaluan ( dekat daerah kambangan sekarang ).

Brahmana ini adalah Brahamana Manuaba , Brahamana ini mendengar Kerajaan Belaluan belum mempunyai Ciwa , dan akan mencari Ciwa , lalu dia datang ke kerajaan . kedatangannya bertujuan untuk mohon kepada I Gusti Ngurah Belaluan supaya I Gusti Ngurah Belaluan mau menjadikan Brahamana Manuaba ini menjadi Ciwa nya ( Baghawantanya ) , sedangkan I Gusti Ngurah menolaknya , karena beliau mengendaki Brahamana ( Kemenuh ) . Lalu pergi ke Desa Kayu Putih di Daerah Singaraja , beliau meminta supaya diantara Brahamana Kemenuh yang ada di Desa itu datang ke wilayah Kerajaan Belaluan dan menjadi Baghawantanya , akhirnya permohonan beliau dikabulkan . Brahamana datang dan dibuatkan Geriya disebelah tenggara Kerajaan Belaluan dengan nama Geriya Kedaton Lebah karena tempatnya agak rendah ( lobong ) yaitu yang ada di Banjar Cau sekarang.

Dengan adanya I Gusti Ngurah Belaluan sudah mempunyai Baghawanta ini mengakibatkan Brahamana Manuaba di Kebon menjadi marah ( duka ) dan diseranglah Kerajaan I Gusti Ngurah Belaluan dengan ilmu hitam ( Black Magik ) yaitu diserang dan dikalahkan oleh semut .

Dengan adanya bahaya semut ini mengakibatkan I Gusti Ngurah Belaluan menghilang tanpa bekas , sedangkan rakyatnya mengungsi ke daerah sekitarnya , ada yang keselatan , ke timur, ke barat dan lenyaplah kerajaan Belaluan ini. Bekas kerajaan ini sekarang sudah menjadi tanah pertanian yaitu menjadi subak Belaluan dan peninggalan yang kas dari Kerajaan Belaluan ini diantaranya :

Pura Gunung Sari di Subak Belaluan , bekas kepunyaan I Gusti Ngurah Belaluan

Pura Pengelumbungan di ujung utara Subak Belaluan sekarang , bekas Pemujaan bersama dari rakyat Kerajaan Belaluan.

Sebelum membicarakan sejarah tentang Desa Tua , terlebih dahulu perlu dibicarakan tentang terjadinya masing – masing Banjar Adat yang ada di Desa Tua sekarang ini yaitu :

Banjar Adat Tua

Banjar Adat Bayan

Banjar Adat Cau

BANJAR ADAT TUA

Dalam bab Pendahuluan telah dikatakan , bahwaKerajaan Belaluan telah lenyap dan Rajanya hilang tanpa bekas sedangkan rakyatnya terpencar kesegala penjuru . sebelum kerajaan ini lenyap disebelah timur Kerajaan Belaluan , yaitu diantara Geriya Lobong ada tiga buah Pedukuhan yang dihuni oleh masing – masing Dukuh dan rakyatnya , wilayah dan rakyat ini adalah kekuasaan Kerajaan Belaluan.

Kemudian dengan lenyapnya Kerajaan Belaluan ada juga rakyatnya yang lari ke daerah Pedukuhan ini , kemudian untuk memperkuat kedudukan daerah Pedukuhan ini digabungkan atau dipersatukan dan menjadikan Desa Adat Tua , karena tempat itu adalah tempat para Dukuh.

Karena Dukuh adalah orang Tua yang cakap, tekun melaksanakan ajaran Agaman , Tua juga berarti Tuwu ( Pandita ) dan Tua berarti orang terdahulu itulah sebabnya Desa itu diberi nama Desa Adat Tua.

BANJAR ADAT BAYAN.

Kisah terjadinya Banjar Adat Bayan tidak ada kaitannya dengan Kerajaan I Gusti Ngurah Belaluan , walaupun perkiraan perkembangan dikira – kirakan bersama waktu dengan kerajaan tersebut mengenai Banjar Adat Bayan ini banyak kaitannya dengan Kerajaan I Gusti Ngurah Pacung di Perean, yang terletak disebelah timur sungai , disebelah tenggara Kerajaan I Gusti Ngurah Pacung terdapat sebuah Pedukuhan yang bernama Pedukuhan TITI GANTUNG , dengan Dukuhnya bernama Dukuh Titi Gantung , dengan ini termasuk Kerajaan I Gusti Ngurah Pacung.

Berdasarkan cerita yang ada , diceritakan bahwa Ki Dukuh Titi Gantung mempunyai anak gadis , anak gadis ini diinginkan oleh I Gusti Ngurah Pacung , pada suatu ketika I gusti Ngurah Pacung pergi berburu dalam perjalanan berburu terjadi hujan lebat lalu I Gusti Ngurah Pacung mampir ( singgah ) di rumahnya, Ki Dukuh Titi Gantung kebetulan kemarinnya Ki dukuh Titi Gantung ini di rumahnya ada upacara , I Gusti Ngurah Pacung diundang tapi tidak hadir.

Dengan singgahnya I Gusti Ngurah Pacung di rumah Ki Dukuh ini , akhirnya Ki dukuh menjadi sibuk untuk melayani I Gusti Ngurah Pacung . walaupun Ki Dukuh mempunyai daging karenanya yang datang adalah raja , maka dengan sibuk Ki dukuh menyambleh ayam maupun babi untuk idangan I Gusti Ngurah Pacung , dengan maksud supaya jangan dianggap Ki dukuh mengidangkan ,hidangan bekas sisa yadnya . setelah beliau selesai menikmati hidangan lalu pulang sesampai di rumah kisah perjalanannya berburu diceritakan pada permaisurinya , akhirnya permaisurinya mencela , bahwa I Gusti Ngurah Pacung dihidangkan sisa yadnya oleh Ki Dukuh ini, Pencelaan bertujuan supaya I Gusti Ngurah Pacung tidak jadi mengambil anak gadis Ki Dukuh tersebut.Akhirnya I Gusti Ngurah Pacung menjadi marah , kemudian Ki dukuh Titi Gantung direncanakan akan diserbu.rencana ini didengar oleh Ki Dukuh Titi Gantung , Ki Dukuh Titi Gantung mempunyai tiga orang anak karena mendengar berita dirinya akan diserbu Ki Dukuh Titi Gantung memberitahukan ketiga anaknya supaya meninggalkan tempat tersebut berdasarkan cerita yang ada di Banjar Adat Bayan dan dikaitkan dengan isi buku Babad Pasek karangan I Gusti Bagus Sugriwa , yang menceritakan bahwa Ki dukuh Titi Gantung mempunyai tiga orang anak laki – laki , salah seorang anaknya bernama Ki Pasek Sudriya menuju arah utara ke bukit Celuwung yaitu di barat laut Puri I Gusti Ngurah Pacung.

Jadi berdasarkan cerita tersebut mungkin setelah Ki dukuh titi Gantung diserbu anaknya terpencar yang dua orang tidak diketahui arahnya. Ki Pasek Sudriya di bukit celuwung beliau bersama beberapa orang penghuninya membentuk sebuah Banjar Adat dan peninggalan yang ada sampai sekarang berupa bangunan puru – pura seperti :

Pura Baleagung disebelah utara Pura Manya

Pura Bedugul Celuwung disebelah utara Pura Baleagung

Ki Pasek sudriya biasa juga disebut Ki Dukuh Celuwung dan bertindak sebagai tukang Upacara atau sebagai Kebayan , maka dari itulah banjarnya disebut banjra Adat Bayan , kemudian karena belum mempunyai pemimpin maka oleh I Gusti Ngurah Pacung dikirim seorang untuk mengatur masyarakat Banjar Bayan dan diberi gelar I Gusti Ngurah Bayan , inipun mempunyai peninggalan berupa bangunan yaitu : Pura babaakan yang letaknya di ujung selatan Banjar Bayan , setelah berselang beberapa lama datang penghuni Pandai Beratan berdomisili di Banjar Bayan yang bertindak sebagai tukang bangunan / unagi . serta pembangunan pura pedarman yang bernama pura Desa sampai sekarang. Mengenai letak Banjar Bayan pada mulanya berdiri yang didirikan oleh Ki Pasek Sudriya adalah sebelah timur Banjar Bayan sekarang yang sering disebut dengan Bayan Kanginan , dan sekarang telah menjadi persawahan peninggalan yang masih hanyalah bangunan Pura Madya dan Pura Bedugul Celulung dan Balai Agung , sedangkan tempat kediaman I Gusti Ngurah Bayan adalah di Banjar Bayan sekarang . dengan adanya kenyataan bahwa letak Banjar Bayan adalah seperti kita dapat lihat sekarang ini padahal semula adalah di Bayan kanginan lalu timbul pertanyaan apa sebabnya letak Banjar Bayan tersebut berpindah kebarat, pertanyaan ini bisa dijawab dengan berdasarkan cerita nya bahwa dahulu dikatakan daerah Ki Pasek Sudriya dengan tidak diduga diserang semut yang besar – besar dan bergulung . dengan datangnya serangan semut ini penduduk tersebut pindah ke barat mendiami daerah bayan sekarang .

BANJAR ADAT CAU .

Tentang Banjar Adat Cau ini ada kaitannya dengan Ki Dukuh Titi Gantung, dimana telah meninggalnya Ki dukuh Titi Gantung diserbu oleh I Gusti Ngurah Pacungan mengakibatkan sering terjadi kegoncangan – kegoncangan di masyarakat sekitarnya . sebab banyak masyarakat yang masih segia dengan ajaran Ki Dukuh Titi Gantung mengungsi menuju daerah sekitar Desa Tua , dengan mendiami daerah Geriya Lobong disebelah Banjar Tua , dan mereka membawa nama asal Banjarnya sehingga Banjar Adat ini diberi nama Banjar Cau.

Mengenai pembentukan pemerintahan Desa , baru mulai sejak Pemerintahan Penjajah Belanda di Indonesia . Pemerintah belanda untuk memudahkan mengatur penjajahan di Indonesia secara administrasi Pembentukan Desa Administrasi dengan jalan manggabungkan Banjar – banjar Adat yang tempatnya saling berdekatan menjadi satu yang diperintah oleh seorang Perbekel , maka antara Tua, Bayan dan Cau tergabung menjadi satu kelompok Pemerintahan Desa dengan diberi Nama “ DESA TUA “ , karena diambil nama Banjar Adat yang paling terdahulu ada yaitu Banjar Tua.

Demikian riwayat tentang sejarah Desa Tua yang di susun sebagian besar berdasarkan informasi.

Perbekel Desa Tua

I MADE MUDASTRA.SE

PEMERINTAHAN :

Desa Tua berada dalam lingkungan Kecamatan Marga, dengan jarak tempuh 10 menit dari ibu kota Kecamatan dengan jarak 7 Km dan 30 menit dari ibu kota Kabupaten dengan jarak 17 Km , memiliki luas wilayah 380 Ha, dengan batas – batas Desa adalah sebagai berikut :

Disebelah Utara : Desa Baru

Disebelah Timur : Desa Perean

Disebelah Selatan : Desa Petiga

Disebelah Barat : Desa Payangan

Dan Desa Tua , Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan , dilihat dari segi Pemerintahan Desa Tua , terbagi menjadi 3 ( tiga ) Banjar Dinas yaitu :

Banjar Dinas Cau

Banjar Dinas Tua

Banjar Dinas Bayan

Mengenai jumlah Penduduk Desa Tua, berdasarkan rekapitulasi jumlah Penduduk Tahun 2012 Penduduk Desa Tua berjumlah : 2.718 Jiwa , Laki-laki : 1.299 orang , Perempuan : 1.419 orang , dan 741 KK , saat ini pasilitas yang ada di Desa Tua adalah 3 buah lapangan Bolla Volly , 2 buah Sekolah Dasar, yang berada di Banjar Dinas Tua, adalah SD No. 1 Tua dan SD No. 2 Tua berada di Banjar Dinas Bayan , untuk tenaga Kesehatan di Desa Tua terdapat beberapa tenaga medis antara lain :

No Nama Petugas Medis Dokter / Bidan Waktu Praktek Alamat No. Telp

1 Ni Wayan Mudani Bidan Luar jam kantor Br Cau 081558022777

2 Ni Wayan Sukandani Bidan Luar jam kantor Br Tua 081236765946

3 Ni Made Muliani Bidan Luar jam kantor Br Bayan 0813388631525

4 Ni Made Dewi Semerti Bidan Luar jam kantor Br Tua 081338272494

KONDISI GEOGRAFI :

Dari segi geografis , Desa Tua merupakan Daerah pertanian dengan petani padi sebagai mayoritas , selain itu daerah ini juga menghasilkan tanaman palawija seperti sayur mayur dan perkebunan apalagi sekarang masyarakat sedang menggalakan penanaman tanaman tahunan seperti jenis kayu – kayuan yaitu memanfaatkan daerah atau tanah yang kurang produktif disamping itu masyarakat sekarang sudah terbentuk kelompok – kelompok tani yang pada akhirnya akan bisa meningkatkan pendapatan masyarakat seperti kelompok tani , kelompok ternak , kelompok ikan dan kelompok lain – lainnya yang semuanya tergabung menjadi kelompok Gapoktan Teja Dumilah Desa Tua.

KONDISI DEMOGRAFI :

Penduduk Desa Tua, kalau dilihat dari segi pekerjaan sebagian besar bergerak dibidang pertanian , antara lain pertanian tanah basah sekitar 146 Ha, dibagi menjadi 3 ( tiga ) Subak antara lain : Subak Kedokan luas 61 Ha , Subak Pama luas 54 Ha , Subak belaluan 31 Ha dan tanah kering seluas 127 Ha dan juga bekerja sebagai buruh disamping itu juga ada pengembangan dibidang industri kecil yaitu usaha ukir kayu dan usaha pencetakan batako yang banyak sekali menyerap tenaga kerja utamanya dari kalangan ibu – ibu rumah tangga , disamping itu usaha – usaha keluarga seperti beternak sapi, beternak babi dan pembuatan jajan bali yang sudah tentu sangat membantu peningkatan penambahan pendapatan keluarga dan peningkatan tarap hidup keluarga / masyarakat .

RELIGI , BUDAYA :

Dari faktor religi , sebagian besar masyarakat Desa Tua , menganut Agama Hindu , namun kondisi sekarang yang sudah masuk kejaman global terdapat 0,26 % penduduk kami beragama islam , hal ini dikarenakan adanya penduduk pendatang yang mendiami wilayah Desa Tua , bahkan sudah masuk menjadi warga masyarakat Desa Tua, yang bekerja pada sector buruh bahkan ada yang menjadi Pegawai Negeri Sipil .

POTENSI WISATA :

Secara khusus , Desa Tua ada sebuah Objek Wisata yang dimiliki oleh perseorangan yaitu Agrowisata Mahajaya Desa Tua yang sudah banyak didatangi oleh para pengunjung terutamanya adalah anak – anak sekolah , untuk kegiatan berkemah dan penelitian berbagai jenis – jenis tanaman . dan Desa Tua bisa dikembangkan sebagai Desa Wisata yang didukung oleh alam yang masih alami yaitu seperti :

Lahan pertanian terhampar luas , yang luasnya mencapai 146 Ha dengan sistim Pengairan sistim irigasi.

Semua subak sudah memiliki jalan baik jalan beton maupun jalan tanah yang sudah bisa dimasuki oleh kendaraan roda 2 ( dua ) maupun roda 4 ( empat ).

Jalan tersebut kalau dilalui dari lokasi Agrowisata , masuk kejalan subak bisa mengelilingi wilayah Desa Tua yang luasnya 380 Ha dengan melihat hamparan padi yang menghijau atau menghuning ( Pengembangan Wisata Trecking ) .

Memiliki banyak sumber air ( mata air )

Disamping halur sungai yeh sungi , panorama alamnya masih alami dan debit airnya cukup besar , yang juga dihuni ratusan monyet , bahkan ada mata air dan ada 2 ( dua ) buah air terjun . dan memiliki dasar sungai bebatuan airnya bening dan sekarang sudah banyak dilirik oleh pelaku – pelaku pariwisata dan sekarang ini sudah ada yang mendirikan bangunan permanen berupa Vila .

VISI DAN MISI DESA TUA :

G.1. Visi Desa Tua

Visi Desa Tua merupakan suatu alat dorong bagi masyarakat Desa agar memiliki

Motivasi untuk secara terus menerus atas dasar kesadaran sendiri melakukan Pembangunan dari situasi dan kondisi sekarang ini .

Visi cita – cita yang hendak dicapai masyarakat Desa Tua adalah membangun Desa secara berkesinambungan untuk mengentaskan kemiskinan guna menuju masyarakat yang lebih sejahtera .

G.2. Misi Desa Tua

Misi masyarakat Desa Tua dalam mencapai masyarakat sejahtera berdasarkan Visi diatas dengan cara mengembangkan dan membangun dibidang peningkatan kualitas dan kapasitas masyarakat ( dibidang Pendidikan dan Kesehatan Prasarana dan sarana dasar ekonomi) yang meliputi :

Pengembangan Sarana Prasarana dan perbaikan jalan Desa / jalan subak.

Pemberian Beasiswa bagi anak kurang mampu dan anak yang berperestasi

Kegiatan Posyandu dan pelatihan – pelatihan kader

Pengembangan jaringan transmisi air minum dan fasilitas masyarakat lainnya

Pengembangan industri rumah tangga

ALAMAT KANTOR :

Kantor Desa Tua , berada di Banjar Dinas Tua, Desa Tua, Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan , Provinsi Bali . tepatnya di jalan Jurusan : Marga – Apuan Nomor , – Telp 081338412445 , Kode Pos 82181.

DATA KEGIATAN

I.1. KEGIATAN RUTIN

Meningkatkan Pelaksanaan Tertib Administrasi Desa serta Pelayanan kepada masyarakat yang optimal

Menertibkan pelaksanaan Pungutan Desa melalui sumber – sumber yang ada guna menunjang pelaksanaan pembangunan Desa.

Meningkatkan Disiplin dan Pengabdian Perangkat Desa yang ada melalui bimbingan yang mengupayakan peningkatan kesejahteraan.

Meningkatkan Pemeliharaan sarana/ prasarana Kantor Perbekel

Perayaan Hari – hari Nasional, Keagamaan dan Kegiatan Sosial

I.2. KEGIATAN PEMBANGUNAN

Rabat Beton Jalan Subak Samsam

Pembukaan jalan Baru dari jalan Tua – Perean menuju Subak Samsam

Penyempurnaan Jaringan Air Minum

Pembuatan Papan Desa

Rehab Kantor Desa

Pemberian Beasiswa bagi Anak Berprestasi dan Siswa yang Kurang Mampu

Percantik Wajah Desa ( Kebersihan dan Lampu Penerangan Jalan )

Tanggap Penyakit Rabies dan Flu Burung

Menggerakkan Pembangunan Sosial Masyarakat ( Swadaya )

Demikian Propil Desa Tua, dapat kami susun berdasarkan analisis / kenyataan di lapangan guna dapat diketahui dan mohon ditindak lajuti sebagaimana mestinya.

Perbekel Desa Tua

I MADE MUDASTRA.SE

Desa Marga Dauh Puri

Posted by on Jul 11, 2013 in Profil Desa | 0 comments

Sejarah Desa Marga Dauh Puri
Diambil dari catatan I Gusti Ketut Sedeng bekas Bendesa Adat Marga tahun 1937 – 1953.Pada jaman dahulu sebelum ada Desa Marga masih merupakan hutan belantara lalu sebagai Desa awal bernama (Uli ngawit) sebagai pendiri bernama I Nyoman Singa dengan jumlah pengikut berjumlah Sanga (Sembilan) mendirikan Desa bernama Pawuman juga mendirikan kayangan bernama Dalem Sengawang. Lalu dari Uli Ngawit lurus ke timur laut di temukan pijakan kaki kidang yang hampir rusak ( Rapuh bahasa Bali ) kemudian wilayah ini di jadikan pemukiman dan dinamai Kidang Rapuh, Lama kemudian juga mendirikan Dalem ( Tempat Suci / Pura ) dinamakan Pura Kidang rapuh, di sebuah hutan tinggal seorang raja dengan pengikutnya Bernama Ratu Pering kemudian menetap dan merabas hutan membuat wilayah pemukiman bernama Gelagah, begitu juga mendirikan Pura Dalem bernama Pura Dalem Gelagah. Para pengikut Raja Pering dibuatkan tempat pemukiman di wilayah timur laut Gelagah di beri nama Umah Bali. ( sekarang Uma Bali ). Lalu lama kemudian Sang Ratu Pering membuat pasar,tidak jauh dari Puri ( Tempat Tinggal ) disebelah timur diberi nama Kuwuman Lebah. Disebelah selatanya berbatasan dengan Kidang Rapuh ( Pondok I Nyoman Singa ). Dari Kuwoman Lebah setiap hari raja sering bersama pengikut merabas hutan ke arah tenggara sampai akhirnya mendirikan pemukiman bernama Ngebasa ( Sekarag Br, Dinas Basa Di Desa Marga ).Beliau juga mendirikan tempat Suci Dalem Ngabasa sekarang disebut Pura Dalem Basa. Beliau juga mendirikan Taman diberi nama Taman Lebah. ( Sekarang Br Lebah Desa Marga ) Ditaman ini ada di temukan Ranting Pohon diapit pohon Beringin kembar dan besar,ujung dari ranting itu ke utara sampe tidak ditemukan. Kemudian ada lagi oran datang dari Sumatera anaragtag alas ( mengikuti hutan dari lebah,kemudian membangun pemukiman bernama Kebon Tagtag. Cerita kembali akar taru yang di apit pohon beringin besar setelah diperhatikan secara seksama pangkalan lantas ditemukan diberi nama pusar ( Pusar Marga ) lalu diikuti keutara kemudian diketemukan cabangnya tiga ( tetiga ) itu namanya pah tiga sekarang adalah desa petiga kemudian perjalanan diikuti cabang yang keutara cabang yang paling tua saat itu disebut Tua Sekarang ( Desa Tua ).Perjalanan tetap dilanjutkan ke utara dan kemudian cabangnya tidak nampak jelas, (capuh) sekarang namanya Capuhan / Apuhan / Apuan terus ujungnya ke poh tegal (sekarang Desa Tegal )Sang Raja Beserta rombongan karena keburu malam akhirnya bermalam di sini besoknya perjalanan diteruskan ke utara akhirnya ditemukan ujungnya Benyah ( hancur ) sekarang Desa Benyah. Desa ini sebagai batasnya Desa ( Kerajaan Marga ) lalu Kelian beserta rombongan balik ke Marga. Kembali tinggal di Alas Pering ( Hutan Pering ) sekarang Br Alas Pere Desa Geluntung. Pemukiman Beliau diganggu oleh semut hingga akhirnya beliau kembali ngungsi ke Alas Marga. Kemudian dilanjutkan perjalanan ke timur laut hingga akhirnya menetap di wilayah Perean, beliau beristrikan 2 orang : prami bernama Siluh Pacekan, Penawing bernama Siluh Jepun tidak lama kemudian hamil istri prami hingga melahirkan Putra lanang bernama I Gusti Ngurah Batan Duren. Dipinggir kerajaan ada sebuah pedukuhan yang dihuni oleh seorang dukuh bernama Dukuh Titi Gantung, bersahabat dengan Ida Pedanda Watu Lumbang dan I Gusti Unggasan sakeng Tambangan Badung. Kemudian diceritakan menyusul istri penawing juga hamil muda tapi diusir oleh prami. Alkisah, diceritakan I Dukuh Titi Gantung merencanakan Upacara Agama (Ngodalin ring Sanggah ipun (Bahasa Bali). Ki Dukuh juga mengundang Baginda Raja mengharap bisa hadir pada saat Upacara tetapi Raja lupa, tidak bisa menghadiri.
Tapi kebetulan pada saat manis Pengrainan (sehari setelah Upacara) Raja punya keinginan berburu dengan 40 orang pengawal di wilayah hutan Padang Ngoling. Dalam perburuan ketika beliau belum dapat satupun buruannya tiba-tiba turun hujan angin amat deras, Baginda Raja akhirnya beserta pengiring berteduh di rumah I Dukuh Titi Gantung. Ki Dukuh Titi Gantung sangat menyambut kedatangan bagi Raja serta minta ijin untuk menghaturkan jamuan juga kepada segenap pengiringnya. Baginda Raja berkenan, serta mengijinkan kedukuh menyiapkannya.
Ki Dukuh MENGERJAKAN membuat serba baru (Sukla) babi, ayam semua baru dipotong ketika semua selesai lalu disuguhkan kehadapan baginda raja beserta rombongan.
Setelah semuanya selesai baginda raja beserta rombongan kembali ke kerajaan ketika telah tiba istri prami telah menyiapkan hidangan kepada raja ketika dipersilahkan serta merta raja mengatakan kenyang, baru saja makan di rumah Dukuh Titi Gantung, mendengar pernyataan raja sepontan permaesuri marah, menyebutkan raja nyurud ke rumah dukuh karena baru kemarinnya (Ngodalin). Raja berhasil di panas-panasi hingga akhirnya raja mengutus manggala membunuh Fukuh Titi Gantung beserta turunannya. Setelah Dukuh Titi Gantung terbunuh lalu manggala kembali ke kerajaan melaporkan kepada raja. Cerita selanjutnya pada besok harinya I Gusti Unggasan dan badung, mampir ke rumah Ki Dukuh sambil berjualan tuak, betapa terkejutnya pedukuhan itu dijumpainya rusak berantakan karena keburu malam akhirnya I Gusti Unggasan memutuskan bermalam di rumah yang telah rusak itu, ketika tertidur I Gusti Unggasan bermimpi bertemu Ki Dukuh dan diberikan sesuatu disuruh mengambil di merajan I Gusti langsung terbangun dan langsung menuju merajan dilihatnya sinar berupa bantal didalamnya ada bergambar senjata, langsung dibawa dan disimpan pada penyandang (Sanan) tuaknya. Pada esok harinya I Gusti Unggasan berjualan kembali menuju wilayah Perean. Setelah itu I Gusti Unggasan diajak menetap di “Puri Perean” al kisah cerita Perbekel Kuwum Balangan bernama “I Papak” bersama pasukannya disuruh merabas alas Marga tidak seberapa lama tibalah dialas Marga lanjut merabasnya dari Utara ditemukan lingga diberi nama “Sentaja” Sante artinya mulai Ja artinya Kaja (Utara) sekarang disebut Pura Sentaje. Akhirnya alas Marga tersebut dijadikan pemukiman lantas Raja Perean mengutus “I Gusti Unggasan” untuk tinggal di Marga dan diberikan mengiring istri Raja yang sudah hamil bernama “Si Luh Jepun” diiringi pasukan 40 orang. Lantas menuju Marga membangun tempat tinggal ditengah-tengah hutan Marga. Cerita selanjutnya bahwa perjalanan I Gusti Unggasan bertemu dengan “Ida Pedanda Batu Lumbang” dan perintah untuk mengajak Si Luh Jepun tangkil kesana pada hari purnama karena Beliau akan memberikan sesuatu, selanjutnya saat hari purnama tiba Ida Pedanda (Beliau ingin menitipkan pikiran serta mengatakan bahwa Ni Luh Jepun adalah istri Raja Perean dan sekarang dalam keadaan hamil) dan bayi di dalam perutnya adalah Putra Utama hingga akhirnya beliau berhasrat memberikan kekuatan agar menjadi putra yang berguna setelah itu beliau berkata kalau anak ini lahir agar diberi nama “Ida Arya” Si Luh Jepun menyetujuinya dan kemudian kembali ke Marga. Pada suatu hari Ida Arya dipitnah dikatakan telah memperkosa gadis sudra, hingga akhirnya diburu oleh pasukan bersenjata juga “I Gusti Ngurah Beten Duren” melaporkan kepada raja bahwa adiknya harus dihukum mati. Karena kedua adalah putra mahkota lantas Raja mengijinkan mencoba berdua untuk berperang dengan perjanjian siapa yang akan kalah kalau lari ketimur lewat dari Sungai Dangkang tidak boleh dikejar. Ida Arya menunggu pasukannya yang datang dari ngabasa Lebah Marga. Setelah pasukan Ngebasa Lebah Marga datang, Raja mengomando peperangan dengan memberikan senjata tetapi tidak boleh memilih. Akhirnya Ida Arya mendapatkan “ I Baru Bantal “ I Gusti Ngurah Beten Duren “ mendapatkan “ I Baru Upas “ miwah “ Pustaka “ setelah semua bersenjata lalu perang dimulai ( perang saudara kakak melawan adik ) dan pasukan melawan pasukan I Gusti Ngurah Beten Duren lari ketimur lewat Tukad Dangkang Ida Arya beserta pasukannya kembali menghadap Raja, Tapi tiba – tiba Raja Perean membunuh dirinya Ida Arya tidak mau karena itu adalah Ayahnya. Tapi Ida Arya didesak karena Ida Arya adalah Putra Utama berhak membinasahkan segala keangkaramurkaan di bumi ini. Oleh karena itu lalu Ida Arya memusatkan konsentrasinya serta mengunuskan senjatanya kepada Raja kemudian jenasah sang Raja dimakamkan di “ Merajan Taman “ pada malam hari membubul keluarlah “ Naga Kaang “ dipuncak “ Beringin Tuka “ lalu Ida Arya mendekat ke jenasah Raja serta mendapatkan sabda bahwa Ida Arya tidak diberikan mengupacarai jenasahnya. Setelah peperangan di Puri Perean Ida Arya menetap menjadi Raja Muda di Puri Agung Perean. Sewaktu – waktu pergi ke Marga yang diiringi oleh pasukannya I Papak bersama Perbekel ngabasa bersama pasukan – pasukannya merencanakan pembangunan “ Pura Agung Marga “ yang sebagai istana utama Raja juga dilanjutkan pembangunan dengan Pura di empat penjuru dan rakyatnya semua senang dan sangat bakti kepada raja.
Demikian sejarah Marga sebelumnya kemudian sesuai dengan keinginan masyarakat dan Desa Marga yang didukung oleh 9 Banjar Dinas yaitu ; Dinas Anyar, Bugbugan, Tengah, Beng, Tembau, Basa, Lebah, Kelaci, dan Ole menginginkan untuk dimekarkan akhirnya pada tanggal 26 Mei 2003 dengan turunnya Sk Bupati No. 238 Th. 2003 Dengan memekarkan Desa Dinas Marga menjadi tiga 1. Desa Induk, 2. Desa Marga Dinas persiapan yaitu Desa Marga Dajan Puri dan Desa Marga Dauh Puri. Desa Persiapan Marga Dauh Puri dikepalai oleh Pejabat sementara Kepala Desa bernama “ Ida Bagus Putu Wirawan “ Desa Persiapan Marga Dajan Puri dikepalai oleh Pejabat sementara Kepala Desa bernama “ Ida Bagus ketut Wardana “ akhirnya pada tanggal 27 Januari 2004 dengan SK Bupati No. 17 menetapkan Desa Marga Dauh Puri dan Marga Dajan Puri menjadi Desa Definitif. Pada tanggal 25 Januari 2005 dilantik Kepala Desa definitif oleh Bupati Tabanan untuk Desa Marga Dauh Puri bernama “ I Nyoman Kertajaya “ Desa Marga Dajan Puri bernama “ Ida Bagus Ketut Wardana “ dengan Keputusan pengangkatan, Keputusan Bupati No. 19 Th. 2005. Kondisi Desa Marga setelah dimekarkan tiga masing – masing membawahi :
Desa Marga terdiri dari 4 Banjar Dinas yaitu : Banjar Dinas Beng, Tembau, Basa, dan Lebah
Desa Marga Dajan Puri terdiri dari 3 Banjar Dinas yaitu : Banjar Dinas Anyar, Bugbugan, dan Tengah
Desa Marga Dauh Puri terdiri dari 2 Banjar Dinas yaitu : Banjar Dinas Ole dan Kelaci

Desa Marga Dauh Puri dengan batas – batas wilayah :
Utara : Desa Payangan dan Desa Geluntung
Timur : Desa Marga ( Induk )
Selatan : Desa Tegaljadi
Barat : Desa Tunjuk

Sehingga akhirnya kondisi geografis Banjar Dinas di Desa Marga Dauh Puri saat ini menjadi 2 wilayah Banjar Dinas yaitu :
Banjar Dinas Kelaci
Banjar Dinas Ole
Maka Desa Marga Dauh Puri oleh Perbekel dan segenap Perangkat Desa berupaya bekerja keras, mencoba berbagai trobosan, dengan penuh semangat mengajak masyarakatnya melakukan pembangunan diberbagai sektor, guna segera dapat maju melangkah bersama seperti Desa – desa Definitif lainnya. Perbekel Marga Dauh Puri bersama rakyat selalu berusaha mendahulukan kepentingan masyarakat untuk mewujudkan keberhasilan dalam pembangunan ( Stiti Praja Jayeng Rana / tertera pada lambang Desa Marga Dauh Puri ).

Gambaran Umum Desa Marga Dauh Puri

Desa Marga Dauh Puri merupakan salah satu Desa di wilayah Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan Propinsi Bali, dimana kalau dilihat dari letak geografisnya berada 2 Km disebelah barat ibu kota Kecamatan Marga, dengan batas-batas sebagai berikut :
Sebelah Utara : Desa Payangan & Geluntung
Sebelah Selatan : Desa Tegaljadi .
Sebelah Barat : Desa Tunjuk
Sebelah Timur : Desa Marga

Dengan jumlah penduduk sampai dengan Juni 2013 sebanyak 2201 jiwa terdiri dari 1093 jiwa laki-laki dan 1108 jiwa perempuan dengan 645 Kepala Keluarga, yang tersebar di 2 (dua) Banjar Dinas antara lain :
1. Banjar Dinas : Kelaci
2. Banjar Dinas : Ole

Ditinjau dari luas wilayah Desa Marga Dauh Puri mempunyai luas 190,740 Km2, dan dari luas wilayah tersebut sebagian besar merupakan persawahan, yang berada dalam wilayah Banjar Dinas Kelaci, yang dibatasi oleh Tukad Yeh Pudeh disisi Timur dan Tukad Yeh Panahan disisi Barat dimana hasil produksi pada umumnya ditanami padi.

Ditinjau dari Topografi Desa Marga Dauh Puri merupakan wilayah yang memanjang dari Timur ke Barat, serta berada dalam ketinggian 300 Meter dari permukaan laut dengan curah hujan 2000 mm/th dengan suhu udara 30o C dan tergolong dataran rendah. Sehingga cocok untuk daerah pertanian yang hampir setiap jenis tanaman dapat tumbuh dengan subur.

Demikian dapat kami uraikan tentang gambaran umum Desa Marga Dauh Puri.

VISI DAN MISI DESA MARGA DAUH PURI

Visi Desa Marga Dauh Puri

Visi : Terwujudnya Peningkatan Kesejahtraan Masyarakat melalui Pembangunan yang Berlandaskan Tri Hita Karana dengan Menitik Beratkan pada Bidang Pertanian dan Agrowisata.

Misi Desa Desa Marga Dauh Puri
Misi : 1. Meningkatkan tarap hidup masyarakat melalui bidang Pertanian
2. Membangkitkan Budaya Jengah pada Masyarakat untuk memberantas kemiskinan melalui bidang Pertanian dengan Pemanfaatan lahan Pertanian secara Efektif dan Berdaya Guna.
3. Menjaga Kelestarian Subak guna dapat ditingkatkan menjadi Daerah Agrowisata untuk Membangkitkan Pariwisata secara luas.
4. Pemberdayaan Masyarakat dalam Bidang Pembangunan secara luas berdasarkan konsep “Tri Hita Karana”
5. Membangkitkan jiwa kebangsaan masyarakat dengan semangat Puputan Margarana melalui Penataan dan Pelestarian Adat Istiadat serta menyukseskan wajib belajar sembilan tahun secara merata.

RENCANA KEGIATAN TAHUN 2013

1.   Kegiatan Rutin yang akan dilaksanakan tahun 2013  :

*    Meningkatkan  pelaksanaan  tertib   Administrasi   Desa   serta   pelayanan kepada masyarakat yang optimal.

*    Menertibkan pelaksanaan pungutan Desa melalui sumber  –  sumber  yang  ada guna menunjang pelaksanaan pembangunan Desa.

*    Meningkatkan disiplin dan pengabdian perangkat Desa yang ada melalui bimbingan yang mengupayakan peningkatan kesejahteraan .

*    Meningkatkan pemeliharaan sarana Kantor Perbekel

*    Dll

2.   Kegiatan Pembangunan yang akan dilaksanakan Tahun 2013 :

  • Pembangunan tembok penyengker dan pesandekan Pelinggih Balang Tamak Banjar Kelaci
  • Pembangunan penyengker Pura Puseh, Desa, Banjar Kelaci
  • Pembangunan penyengker Pura Desa Br. Ole
  • Perkerasan badan jalan Br. Ole & Kelaci
  • Rabat beton jalan Desa Marga Dauh Puri (PIK)

 

Desa Baru

Posted by on Jul 5, 2013 in Profil Desa | 0 comments

Desa Baru

Membicarakan tentang sejarah Desa memang sudah ada dari sejak jaman dulu, Sesungguhnya adalah merupakan masalah yang sangat sulit rumit, ini disebabkan karena pada umumnya bukti – bukti tertulis jarang sekali ada. Oleh karena itu untuk menyusun sejarah tersebut hanya bisa berdasarkan informasi – informasi yang mengetahui seluk beluk tentang Desa tersebut .

Sebelum membicarakan masalah tentang Desa Baru terlebih dahulu perlu dibicarakan tentang terjadinya masing-masing Banjar Adat yang ada di Desa Baru sekarang ini yaitu :

  1. Banjar Adat Baru
  2. Banjar Adat Raden
  3. Banjar Adat Pinge
  4. Banjar Adat Susut

 

  •           I.      BANJAR  ADAT BARU

Disebelah Utara Pedukuhan adalah kelompok masyarakatyang di pimpin oleh seorang pemekel yang bernama I Pasek Gede Blong, sebagai pedukuhan griya Kedaton dan juga sebagai rakyat I Gusti Ngurah Belaluan, sebagai pemimpinnya dan lokasinya bernama Banjar Blong. Disini I Pasek gede blong membangun sebuah pura pedarman bernama pura panti pasek. Makin lama makin banyak penghuni dan pendatang diwilayah tersebut dengan membawa nama asalnya masing-masing antara lain :

-            Kelompok pande Beratan, dengan mendiami sebelah utara Banjar blong yang bernama Banjar Unagi.

-            Kelompok keramas adalah mendiami sebelah utara banjar unagi (Men Tiwa).

 

Dengan lenyapnya kerajaan I Gusti Ngurah Belaluan, untuk memperkuat persatuannya maka banjar blong, banjar unagi, dan kelompok keramas bergabung menjadi satu banjar adat yaitu menjadi banjar adat wawu dan lama kelamaa menjadi baru, sebab banjar adat ini baru.

  1. II.                  BANJAR ADAT RADEN

Diwilayah banjar baru sering juga datang kelompok penghuni. Ini mengakibatkan lokasi di banjar adat baru menjadi penuh maka dari itu kedatangan kelompok penghuni pendatang berikutnya harus mendiami lokasi yang lain didaerah baru tetapi masih merupakan wilayah banjar baru, maka kelompok pendatang yang berikutnya membentuk kelompok yang baru yaitu dengan mendiami wilayah dibagian timur banjar baru dengan membuat suatu daerah atau rerodan. Rumah yang baru lama-lama rerodan ini berubah manjadi raden sehingga banjar adat ini diberi nama banjar raden.

  1. III.                BANJAR ADAT PINGE

Menurut cerita nang tengah demikian keutara dari pusata kerajaan I Gusti Ngurah belaluan ada tiga tempat kelompok masyarakat yang juga merupakan rakyat I Gusti Ngurah Belaluan diantaranya yaitu :

  1. Kelompok paling selatan bernama Banjar Tengging sebagai pekandelan atau pendukung Pura pengelumbungan.
  2. Disebelah utara banjar tengging terdapat banjar tengah sebagai pendukung pura kayangan tiganya desa adat .
  3. Banjar Pinge sebagai pendukung sebuah pura natar jemeng sampai sekarang berdasarkan bukti-bukti peninggalan yang terdapat di pura menunjukkan bahwa masyarakat pendukungnya menganut agama ciwa dengan adanya patung ganesa.

Adanya nama banjar pinge menurut nang tengah ( dari Pinge ) dahulu di pura natar jemeng terdapat sebuah pohon cempaka putih yang sangat besar, putih berarti Pinge jadi banjar tersebut diberi nama  Banjar Pinge. Banjar tersebut menggabungkan diri menjadi satu banjar yaitu memakai banjar pinge yang ada sampai saat ini.

  1. BANJAR ADAT SUSUT

Banjar ini merupakan kelompok penghuni yang terakhir diantara banjar-banajr lain yang bergabung desa baru. Banjar ini pun adalah merupakan penghuni pendatang, pendatang dari banjar susut tidak jelas susut itu wilayah apa. Sehingga banjar adat ini diberi nama banjar susut, walaupun dimasa berikutnya banyak datang penghuni perorangan yang ikut mendiami banjar susut ini seperti dari gerih dan lain-lainnya tetapi mereka tidak membawa nama asalnya tergantung dalam banjar susut.

Setelah diuraikan sejarah masing-masing banjar tersebut diatas barulah dapat diuraikan tentang sejarah desa baru.

Mengenai pembentukan pemerintahan desa mulai sejak pemerintah penjajah belanda di Indonesia. Pemerintah belanda untuk memudahkan mengatur penjajahan secara administrasi lalu membentuk pemerintahan administratif desa, jadi pembentukan desa administratif, desa pun beru terjadi setelah adanya pemerintah penjajah belanda. Pembentukan desa administratif ini dengan jalan menggabungkan banjar-banjar adat yang tepatnya saling berdekatan menjadi satu yang diperintahkan oleh seorang perbekel maka antara baru, raden, pinge dan susut tergabung menjadi satu kelompok pemerintahan desa menjadi desa baru.

Demikian riwayat tentang sejarah desa baru yang disusun sebagaian besar berdasarkan informasi.

  1. A.    ASPEK DEMOGRAFI
    1.                                 I.        Data Penduduk, : Jumlah Penduduk Laki dan Perempuan di masing – masing  dusun adalah sebagai berikut, :

No

Nama Dusun

Jumlah KK

Jumlah Penduduk

Jumlah Anggota Keluarga
Laki-laki Perempuan

1.

Dusun Baru

209

386

395

781

2.

Dusun Raden

39

78

76

154

3.

Dusun Pinge

167

323

340

663

4.

Dusun Susut

197

314

298

612

Jumlah

618

1.101

1.109

2.210

 

  1.                                     II.             Agama

Masyarakat Desa Baru sangat toleransi / saling menghargai antar umat beragama satu dengan yang lainnya yaitu jumlah penduduk yang beragama Hindu 2.206 orang dan beragama Islam 4 orang.

  1.                                   III.               Mata Pencaharian

Mata Pencaharian Penduduk Desa Baru adalah mayoritas mempunyai pekerjaan bertani yaitu sekitar 70 %, pegawai 10%, dan pedagang / buruh / Jasa dan lain – lainnya 20%.

  1.                                   IV.               Pendidikan

Pemerintahan Desa senatiasa tetap memperhatikan di bidang Pendidikan karena maslah pendidikan adalah masalah mendasar untuk mengentaskan buta aksara untuk menuju peningkatan sumber daya manusia dimana di Desa Baru sudah ada 2 buah TK, 2 buah SD dan 1 buah UGB SMP Negeri 3 Marga di Baru dan tingkat pendidikan di desa Baru adalah :

1.    Belum Sekolah                  =     131    Orang

2.    T K                                          =       21    Orang

3.    SD sedrajat                         =     486    Orang

4.    SLTP sedrajat                     =     446    Orang

5.    SLTA sedrajat                     =     581    Orang

6.    S.1                                          =       55    Orang

7.    S.2                                          =       40    Orang

8.    S.3                                          =       27    Orang

  1.                                     V.               Kesehatan

Dibidang kesehatan tidak ada masalah karena masyarakat Desa Baru itu sudah dilayani oleh 1 ( Satu ) buah Puskesmas Pembantu dan setiap hari Kamis ada kunjungan Dokter, disamping itu banyak bidan –bidan praktek dan oleh Dokter yang ada di wilayah Desa.

  1.                                   VI.               Kelembagaan

Dibidang kelembagaan di Desa Baru sangat banyak lembaga- lembaga yang menangani tentang Pemerintah Desa maupun lembaga yang menangani masalah penanganan permasalahan sosial maupun budaya seperti Adat, Sekaa Teruna, Karang Taruna, Sekaa Gong / Angklung, Kelompok Ternak, Ukir Stil Bali, Pertanian dan Subak Abian.

  1.                                 VII.               Kondisi umum

Di Indonesia masalah musim mungkin sama kondisinya dan khusus di Desa Baru, kami mengenal 3 jenis musim yaitu :

  1. Musim Kemarau
  2. Musim Penghujan
  3. Musim Panca Roba

 

2.1.3.        Keadaan Sosial

Jumlah penduduk Desa Baru berdasarkan hasil sensus pada tahun 2010, adalah sebanyak 2.206 jiwa, terdiri dari 1.101 jiwa penduduk laki-laki dan 1.109 jiwa penduduk perempuan, yang terdiri dari 612 KK. Sedangkan jumlah RTM sebanyak 59 RTM dengan 220 orang anggota keluarga.

Struktur penduduk menurut pendidikan menunjukkan kualitas sumber daya manusia yang dipunyai desa Baru yaitu yang berusia pada usia pendidikan dasar 7 tahun s/d  16 tahun ( pendidikan sekolah dasar dan menengah ) yang belum pernah sekolah 16%, sedang mengikuti pendidikan 77 % dan sisanya 7 % tidak bersekolah lagi.

Sedangkan yang berusia diatas 16 tahun ( diatas usia pendidikan dasar ) yang belum pernah sekolah 7 %, sedang mengikuti pendidikan 14 % dan sisanya 0,26 % tidak bersekolah lagi, baik pada tingka lanjutan dan perguruan tinggi.

Struktur penduduk menurut mata pencaharian menunjukkan bahwa sebagian besar penduduk menggantungkan sumber kehidupannya disekitar pertanian (70 % ), sector lain yang menonjol dalam penyerapan tenaga kerja adalah perdagangan ( 10 %), sektor industri rumah tangga dan pengolahan ( 8 %),

sektor jasa ( 2 %) dan sektor lainnya seperti pegawai negeri, karyawan swasta dari berbagai sektor ( 10 %).

Struktur penduduk menurut agamna menunjukkan sebagian besar penduduk Desa Baru, beragama Hindu( 99,9 %), Islam( 0,09 %), Budha( 0 %), Kristen Protestan( 0 %).

Dalam konteks ketenagakerjaan ditemukan bahwa 56,4 % penduduk usia kerja yang didalamnya 14,2 % angkatan kerja dan 42,2 % bukan angkatan kerja.

Kebudayaan daerah Desa Baru, tidak terlepas dan diwarnai oleh Agama Hindu dengan konsep “ Tri Hita Karana “ ( hubungan yang selaras, seimbang dan serasi antar manusia dengan Tuhannya, manusia dengan manusia dan manusia dengan lingkungannya).

 

2.1.3.        Keadaan Ekonomi

Struktur perekonomian Desa Baru masih bercorak agraris yang menitikberatkan pada sector pertanian. Hal ini didukung oleh penggunaan lahan pertanian masih mempunyai porsi yang tersebar sebanyak 85 % dari total penggunaan lahan desa. Juga 70 % mata pencaharian penduduk menggantingkan hidup pada sector pertanian. Pada sector ini komoditi yang menonjol sebagai hasil andalan adalah padi dan palawija.

Beberapa sector ekonomi yang tergolong economic base dan menonjol di samping sector pertanian adalah, perdagangan, industri rumah tangga dan pengolahan serta sector pariwisata.

Pada sector perdagangan untuk kebutuhan konsumsi dan hasil pertanian, sedangkan fasilitas pasar yang ada di desa Baru, yaitu pasar kecamatan 1 buah.

Pada sector Industri rumah tangga dan pengolahan termasuk didalamnya adalah kerajinan ukir, jahit untuk banyak berkembang secara perseorangan yang banyak menyerap tenaga kerja.

Pada sector jasa, yang menonjol adalah tumbuhnya lembaga/institusi keuangan mikro berupa Koperasi. LPD sebagai pendukung ekonomi desa. Hal ini diharapkan akan membawa dampak positif dalam perkembangan ekonomi desa secara keseluruhan. Disamping itu sector jasa yang lain adalah Koperasi Pertukangan dan Sektor industri yang berkembang di desa Baru juga diharapkan mampu mendorong perkembangan ekonomi desa secara keseluruhan, karena sector ini mempengaruhi perkembangan sector-sektor yang lainnya seperti peternakan.

 

2.1.       KEADAAN PEMERINTAHAN DESA BARU

Pemerintahan Desa Baru, Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan, adalah desa kami yang terletak paling Utara di Kecamatan Marga dengan  :

  1. a.    ORBITASI

a.1. Jarak dari ibu kota Kecamatan           :   8 Km

a.2. Jarak dari ibu kota Kabupaten            : 18 Km

a.3. Jarak dari ibu kota Propinsi  : 33 Km

  1. b.    IKLIM

b.1. Curah Hujan                                              : 4.500 Mm

b.2. Jumlah Bulan Hujan                               : 6 Bulan

b.3. Suhu Rata – rata                                      : 230C

b.4. Tinggi Tempat                                           : 500-700 Mdl

b.5. Bentangan Wilayah                                                : Dataran Rendah

 

  1. B.     ASPEK GEOGRAFI

     Secara geografi, Desa Baru, Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan merupakan daerah landai dengan ketinggian, : 500 – 700 Meter diatas permukaan laut, curah hujan, 4.500 mm / Tahun, dengan batas wilayah administrative sebagai berikut, :

Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Apuan.

-       Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Luwus.

-       Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Tua.

-       Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Payangan.

 

Luas wilayah Desa Baru, adalah seluas, : 400 Ha. Secara administratif desa Baru. Terbagi atas 4 ( Empat ) Banjar Dinas / Dusun yang meliputi, :

  1. Banjar Dinas, Baru.
  2. Banjar Dinas, Raden.
  3. Banjar Dinas, Pinge.
  4. Banjar Dinas, Susut.

Penggunaan lahan di wilayah Desa Baru. Sekarang dipilih menjadi daerah pemukiman, : 17 Ha. Tanah Sawah, : 141 Ha. Pertanian Tanah Kering, : 103 Ha. Penggunaan lahan Lain – lain, : 2,5 Ha. Perkantoran, : 0,03 Ha. Tanah Lapangan, : 2 Ha.

Desa Baru, memiliki jalan sepanjang, :  10,00 Km. dengan Rincian, Jalan Nasional, : – Km. Jalan Propinsi, :  – Km. Jalan Kabupaten, : 2 Km. Jalan Desa, 8,00 Km dengan kondisi beraspal, : 2,5 Km. Jalan Berbeton, : 5,00 Km.  dan jalan Tanah, : 2 Km.

 

 

  • I.                   VISI DAN MISI DESA BARU

 

-       Visi dan Misi Desa Baru

adalah : Terwujudnya peningkatan kesejahtraan masyarakat Tabanan melalui pembangunan yang berkelanjutan berwawasan Budaya dan Lingkungan yang menitik beratkan pada pertanian dalam arti luas dan bersinergi dengan pariwisata, dan ada 8 ( Delapan ) bidang prioritas pembangunan adalah :

1.Bidang Kesehatan Tabanan Tahun 2007

2.Bidang Pendidikan Tabanan Cerdas 2008

3.Bidang Pertanian Tabanan Kota Agro Tahun 2010

4.Bidang Budaya dan Pariwisata Tabanan Taksu Bali 2010

5.Bidang Ekonomi Kerakyatan Pencapaian LPE Tabanan 7 % Tahun 2010

6.Bidang Aparatur Pelayanan Prima Tahun 2008

7.Bidang Ekonomi Kerakyatan Pencapaian LPE Tabanan 7 % Tahun 2010

8.Bidang Tata Ruang Tabanan Tertib Ruang 2010

9.Bidang Trantib Tabanan Aman Tertib dan Nyaman 2008

 

4.1.1. Visi Desa Baru

 

Visi desa merupakan suatu alat dorong bagi masyarakat desa agar memiliki motivasi untuk secara terus – menerus atas dasar kesadaran sendiri melakukan “ Pembangunan” dari situasi dan kondisi sekarang ini.

Visi ( Cita-cita) yang hendak dicapai masyarakat desa Baru adalah : Membangun Desa secara berkesinambungan untuk mengentaskan kemiskinan guna menuju masyarakat yang lebih sejahtra.

 

4.1.2. Misi Desa Baru

 

Misi Masyarakat Desa Baru dalam mencapai masyarakat sejahtra berdasarkan Visi diatas dengan cara mengembangkan dan membangun dibidang peningkatan kualitas dan kapasitas Masyarakat ( dibidang Pendidikan dan Kesehatan ) prasarana dan sarana dasar dan ekonomi yang meliputi :

  1. Pengembangan dan perbaikan jalan desa / jalan subak.
  2. Posyandu
  3. Pemgembangan Jaringan tranmisi air minum dan fasilitas masyarakat lainnya.

 

 

  1. II.                ALAMAT KANTOR

 

Kantor Desa Baru beralamat di Banjar Baru, Desa Baru, Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan yaitu Jn. Raya Marga – Apuan kode post 82181.

 

  1. III.             RENCANA KEGIATAN

 

Tujuan dan sasaran yang ingin dicapai dalam rencana kegiatan pembangunan Desa secara bertahap demi meratanya masyarakat menikmati hasil pembangunan serta berpartisipasi dalam pembangunan itu sendiri.

 

  1. Kegiatan yang akan dilaksanakan tahun 2013

 

1.   Perbaikan pipa air minum, tranmisi dan distribusi, pembelian meteran

2.   Perlengkapan sarana dan prasarana kantor

3.   Menggerakkan pembangunan sosial masyarakat ( swadaya )

4     Pembangunan Kantor Desa

5     Senderan Jalan

6.   Pembinaan masyarakat di bidang kesehatan, kebersihan dan lingkungan hidup

7.   Menggerakkan pembangunan Desa Wisata

8.   Pembinaan di bidang keagamaan

9.   Pembinaan masyarakat dibidang ekonomi

10. Pembinaan SDM generasi muda

11. Tanggap penyakit rabies dan flu burung

12. Pemberdayaan/peningkatan perempuan ( SPP Mekar Sari )

13. Pembangunan Penyengker Pura Melanting Br. Raden

14. Pembangunan Bale Panjang dan Kreb Pelinggih di Pura Bale Agung Baru

15. Penyenderan jalan Pinge menuju Subak Belaluan

16. Pembangunan Puwaregan dan wc di Bale Banjar Susut

17 .Pembangunan wc di Pura Dalem Baru

 

  1. IV.               DATA KEGIATAN DESA BARU

 

  1. Pembuatan Jalan Subak Tani di Subak Pingelen Br. Pinge
  2. Pembuatan Senderan jalan Br. Baru – Br. Raden
  3. Pembuatan gardu pandang di objek Wisata Pura Beji Pinge
  4. Pelatihan memasak dalam rangka kegiatan Desa Wisata di Banjar Pinge
  5. Pembuatan Tapal Batas Desa Baru
  6. Pelatihan Tata Rias Pengantin Bali ( PKK Desa Baru )
  7. Pembinaan dari Kabupaten dan Kecamatan untuk PKK dalam rangka menyambut Lomba Desa tahun 2014

 

 

Pembuatan Gardu  Pandang Objek Wisata Pura Beji Pinge Pembuatan jalan Subak Pengilen Pembuatan Senderan Br Baru- Br Raden Pembuatan tapel batas desa baru

Pelatihan Memasak di Br Pinge Pelatihan Tata Rias PKK Desa Baru Pembinaan PKK Desa Baru

Desa Peken Belayu

Posted by on Jun 4, 2013 in Profil Desa | 0 comments

DESA PEKEN BELAYU

1. KONDISI DESA

1. 1.Sejarah Singkat  Desa Peken Belayu

Sebelum jaman Republik wilayah Belayu merupakan wilayah Kerajaan yang berpusat di Puri Gede Belayu. Kerajaan Belayu dahulu meliputi wilayah Desa Peken, Batannyuh, Beringkit, Selanbawak, Caubelayu, Kukuh, Tegaljadi dan Desa Kuwum. Setelah jaman Republik, wilayah tersebut, pisah-pisah dan berdiri sendiri membentuk desa masing-masing sesuai dengan aturan yang berlaku. Namun tonggak dari pada kerajaan ini masih ada namun wilayahnya meliputi Desa Batannyuh, Peken Belayu dan Beringkit yang tergabung menjadi satu Desa Adat Belayu.

Mengenai sejarah Desa Peken Belayu ditinjau dari letak. Desa Peken Belayu berada dipusat Kerajaan Belayu dan desa ini merupakan pusat perekonomian, terbukti dari dulu sampai sekarang di Bencingah Belayu berdiri pasar. Kata “Pasar” bahasa balinya disebut “PEKEN”. Karena merupakan pusat perekonomian Kerajaan Belayu maka wilayah ini disebut “DESA PEKEN “. Dengan terbitnya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999, Tentang Otonomi Daerah, sesuai dengan keinginan masyarakat beserta tokoh masyarakat Pemerintah Desa Peken menetapkan Peraturan Desa Nomor : 6 Tahun 2003 tentang perubahan nama Desa Peken menjadi Desa Peken Belayu. Serta dengan Keputusan Bupati Tabanan Nomor : 39 Tahun : 2007 tentang perubahan nama Desa Peken menjadi Desa Peken Belayu. Maka sejak ditetapkannya Keputusan Bupati tersebut, Desa Peken resmi namanya menjadi DESA PEKEN BELAYU sampai sekarang.

1.2.Topografi Desa

1.2.1.   Lokasi Desa :

  • Luas wilayah Desa Peken Belayu                  : 3 Km2 (300 Ha)
  • Ketinggian tanah dari permukaan laut                        : 24 Mdl.
  • Banyaknya curah hujan                                  :           -
  • Suhu udara rata-rata                                       : 25.30 oC.

1,2.2. Batas Desa :

  • Sebelah Utara              : Desa Batannyuh, Kec.Marga
  • Sebelah Timur              : Desa Werdibuana, Kec.Mengwi
  • Sebelah Selatan           : Desa Beringkit, Kec.Marga
  • Sebelah Barat              : Desa Kukuh, Kec.Marga

1.2.3. Jumlah Banjar Dinas

  • Banjar Dinas Umabian
  • Banjar Dinas Gunungsiku
  • Banjar Dinas Peken
  • Banjar Dinas Tengah
  • Banjar Dinas Pekandelan

1.2.4. Keadaan Tanah :

  • Sawah dan lading                     : 162.30 Ha
  • Permukiman/perumahan         : 100.50 Ha
  • Jalan                                         : 21.75 Ha
  • Pekuburan                                : 0.25 Ha
  • Lain-lain                                    : 15.20 Ha
  • Jumlah………………………           : 300.00 Ha

1.2.5. Sumber Daya Alam :

  • Sungai                                      : 3 Bh
  • Mata air                                   : 3 Bh

 

1.3. Keadaan Sosial

Jumlah penduduk Desa Peken Belayu berdasarkan hasil pendataan pada tahun 2009, adalah sebanyak 3096 jiwa, terdiri dari 1520 jiwa penduduk laki-laki dan 1576.jiwa penduduk perempuan, yang terdiri dari 728 RT. Sedangkan jumlah RTM sebanyak 56 RTM dengan 245 orang anggota keluarga.

Struktur penduduk rnenurut pendidikan menunjukkan kualitas sumber daya manusia yang dimiliki Desa Peken Belayu, yaitu yang berusia pada usia pendidikan dasar 7 tahun s/d 16 tahun (pendidikan sekolah dasar dan menengah) yang belum pernah sekolah 0 %, sedang mengikuti pendidikan 99 % dan sisanya 0,1 % tidak bersekolah lagi.

Sedangkan yang berusia diatas 16 tahun (diatas usia pendidikan dasar) yang belum pernah sekolah 0 %, sedang mengikuti pendidikan 99 % dan sisanya 0,1 % tidak bersekolah lagi, baik pada tingkat lanjutan dan perguruan tinggi.

Struktur penduduk menurut mata pencaharian menunjukkan bahwa sebagian besar penduduk menggantungkan sumber kehidupannya di sektor pertanian (12.38 %), sektor lain yang menonjol dalam penyerapan tenaga kerja adalah perdagangan (3.55 %),           sektor industri rumah tangga, wiraswasta dan pengolahan (10.73 %), dan sektor lainnya seperti pegawai negeri, Polri, TNI-AD, pensiunan, ibu rumah tangga, buruh, karyawan swasta, pelajar berbagai sektor (73.31 %).

Struktur penduduk menurut agama menunjukkan sebagian besar penduduk Desa Peken Belayu, beragama Hindu (98%), Islam (1.5%), Budha (0%), Kristen Protestan (0%) dan Katolik (0.5%).

Dalam konteks ketenagakerjaan ditemukan bahwa 90% penduduk usia kerja yang didalamnya 0.5% angkatan kerja dan 0.3% bukan angkatan kerja. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) 0.2%.

Kebudayaan Daerah Desa Peken Belayu, tidak terlepas dan diwarnai oleh Agama Hindu dengan konsep “Tri Hita Karana” (hubungan yang selaras, seimbang dan serasi antara manusia dengan Tuhannya, manusia dengan manusia dan manusia dengan lingkungannya).

 

1.4. Keadaan Ekonomi

Struktur perekonomian Desa Peken Belayu, masih bercorak agraris yang menitik beratkan pada sektor pertanian. Hal ini didukung oleh penggunaan lahan pertanian masih mempunyai porsi yang terbesar sebanyak 54% dari total penggunaan lahan desa. Juga 12.38% mata pencaharian penduduk menggantungkan hidup pada sektor pertanian. Pada sektor ini komoditi yang menonjol sebagai hasil andalan adalah padi.

Beberapa sektor ekonomi yang tergolong economic base dan menonjol di samping sektor pertanian adalah perdagangan, industri rumah tangga, industri kerajinan dan pengolahan serta sektor pariwisata.

Pada sektor perdagangan terdapat 110 orang pedagag yang tersebar di Desa Peken Belayu sedangkan fasilitas pasar yang ada yaitu Pasar Desa yang berada di Bancingah Belayu.

Pada sektor industri rumah tangga dan pengolahan termasuk didalamnya adalah kerajinan ukir, jajan bali, bebantenan/upakara, krupuk, betutu, dll.

Pada sektor jasa, yang menonjol adalah tumbuhnya lembaga/institusi keuangan mikro berupa Koperasi, LPD dan BPR sebagai pendukung ekonomi desa. Hal ini diharapkan akan membawa dampak positif dalam perkembangan ekonomi desa secara keseluruhan. Disamping itu sektor jasa yang lain adalah laundry, bengkel, salon kecantikan dan percetakan, sektor industri pariwisata yang berkembang di Desa Peken Belayu juga diharapkan mampu mendorong perkembangan ekonomi desa secara keseluruhan karena sektor ini mempengaruhi perkembangan sektor-sektor yang lainnya.

 

1.5. Kondisi Pemerintahan Desa

1.5.1. Pembagian Wilayah Desa

Desa Peken Belayu rnerupakan salah satu desa dari 16 desa yang ada di Kecamatan Marga, dengan luas wilayah 300 Ha/km2 atau sekitar 9% luas Kabupaten Tabanan. Secara administratif Desa Peken Belayu terbagi atas lima banjar dinas/dusun yang meliputi : Banjar Dinas Umabian, Banjar Dinas Gunungsiku, Banjar Dinas Peken, Banjar Dinas Tengah dan Banjar Dinas Pekandelan dengan batas wilayah sebelah Utara Desa Batannyuh, Kec.Marga, sebelah Timur Desa Werdibuana Kec.Mengwi, sebelah Selatan Desa Beringkit Belayu dan sebelah Barat Desa Kukuh, Kec.Marga, Kabupaten Tabanan.

1.5.2. Setruktur Organisasi Pemerintahan Desa

  • Pemerintahan Desa terdiri dari Pemerintah Desa dan BPD;
  • Pemerintah Desa terdiri dari Kepala Desa/Perbekel dan Perangkat Desa;
  • Perangkat Desa terdiri dari Sekretaris Desa dan Perangkat Desa lainnya;

Perangkat Desa lainnya terdiri dari :

  1. Sekretariat Desa;
  2. Pelaksana teknis lapangan;
  3. Unsur kewilayahan.

Sekretariat Desa terdiri dari para Kepala Seksi dan Kepala Urusan;

Pelaksana teknis lapangan terdiri dari :

  1. Petugas pungut rekening air minurn;
  2. Petugas parkir;
  3. Pelaksana harian simpan pinjam desa;
  4. Para petugas pungutan desa;
  5. Bendahara;

Unsur kewilayahan terdiri dari para Kelian Dinas.

Struktur Organisasi Pemerintah Desa Peken Belayu :

  • Perbekel : I Gusti Made Darmayasa
  • Sekretaris : I Made Geni Wijaya
  • Kasi Pemerintahan : Ni Made Suciati
  • Kasi Pembangunan : I Wayan Kawirata
  • Kasi Kesejahteraan : I Gusti Ayu Rai Parnitiningsih
  • Kaur Umum : I Wayan Sudina
  • Kaur Keuangan : Ni Nyoman Sariatri
  • Kaur Adminitrasi : Ni Nyoman Ary Sudhani
  • Kelian Dinas Umabian : I Gusti Made Santika
  • Kelian Dinas Gunungsiku : I Made Madii
  • Kelian Dinas Peken : I Wayan Murjana
  • Kelian Dinas Tengah : I Gusti Made Kartikayasa
  • Kelian Dinas Pekandelan : I Made Jaya

 

2. VISI DAN MISI

 

2.1.Visi Desa Peken Belayu

” MENUJU DESA BERSIH SEHAT SEJAHTERA BERWAWASAN WISATA”

 

2.2.Misi Desa Peken Belayu

Misi pembangunan Desa Peken Belayu Tahun 2010- 2015 adalah :

  1. Meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui program pendidikan dan program kesehatan, serta pengamalan ajaran agama kepada masyarakat sesuai dengan falsafah “Tri Hita Karana”
  2. Menggali, melestarikan dan mengembangkan nilai-nilai budaya lokal desa.
  3. Meningkatkan ketahanan ekonomi dengan rnenggalakkan usaha ekonomi kerakyatan, melalui program strategis di bidang produksi pertanian, pemasaran, koperasi, usaha kecil dan menengah, serta pariwisata.
  4. Meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pembangunan, sehingga dapat menumbuh kembangkan kesadaran dan kemandirian dalam pembangunan desa yang berkelanjutan.
  5. Menciptakan suasana yang aman dan tertib dalam kehidupan bermasyarakat.
  6. Meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dan meningkatkan kerjasama antar lembaga pemerintahan di desa serta lembaga adat.
  7. Memberdayakan masyrakat menuju masyarakat mandiri.

 

2.3.Kebijakan Pembangunan

2.3.1. Arah Kebijakan Pembangunan Desa          

Arah kebijakan pembangunan Desa Peken Belayu dalam rangka mengemban misi dan mewujudkan visi pembangunan yang telah ditetapkan, pada bidang-bidang pembangunan adalah sebagai berikut :

2.3.1.1. Bidang Pelayanan Umum Pemerintah Desa

  1. Meningkatkan jiwa pengabdian dan kesetiaan segenap aparatur pemerintahan desa sesuai dengan cita-cita perjuangan bangsa dan negara berdasarkan Pancasila dan UUD 1945;
  2. Menata kelembagaan pemerintahan desa dan memperkuat sumber daya manusianya dengan peningkatan kapasitas berupa pelatihan-pelatihan dalam aplikasi komputer, pengarsipan, dll.
  3. Menyusun RPJMDes  periode 5 tahunan sebagai dokumen perencanaan pembangunan di desa serta penyusunan RKP desa setiap tahunnya yang dibuat secara partisipatif, untuk mengefektifkan pelaksanaan pembangunan di desa sebagai bentuk pelayanan kepada masyarakat menuju kemandirian masyarakat.
  4. Mewujudkan tertib administrasi kependudukan sebagai perlindungan hukum kepada masyarakat dan terarahnya pelayanan dan perencanaan pembangunan.
  5. Menyusun Peraturan Desa sebagai dasar pelaksanaan pemerintah desa dalam satu tahun kedepan.

2.3.1.2. Bidang Ekonomi

  1. Memanfaatkan potensi sumber daya manusia dan sumber daya alam seoptimal mungkin untuk menghasilkan produk industri kecil dan kerajinan rumah tangga yang memiliki nilai tambah serta aktivitas perdagangan yang mampu menunjang pembangunan di desa;
  2. Meningkatkan pembangunan pertanian baik lahan basah (sawah) ataupun lahan kering (perkebunan) melalui peningkatan produksi, pasca panen dan pemasaran yang berwawasan agribisnis, dengan memperhatikan kelestarian sumber daya tanah dan air yang tersedia;
  3. Mengembangkan ekonomi kerakyatan (petani, peternak, nelayan atau usaha mikro dan kecil lainnya) yang bertumpu pada mekanisme pasar dengan penguasaan teknologi melalui bimbingan dan penyuluhan;
  4. Mengembangkan usaha mikro dan kecil yang dikelola oleh kaum perempuan untuk dapat meningkatkan kesejahteraan keluarga melalui penambahan permodalan dan bimbingan dan penyuluhan;
  5. Mengoptimalkan pengelolaan/penggunaan dana atau pendapatan yang berasal dari pemberian pemerintah daerah ataupun pusat dengan efektif dan efisien sesuai dengan arah kebijakan yang ditetapkan;
  6. Mendorong peningkatan pertumbuhan dan pengembangan koperasi berbasis masyarakat dan lembaga keuangan mikro di desa untuk dapat meningkatkan akses permodalan bagi usaha mikro dan kecil di desa untuk dapat meningkatkan volume usaha ekonomi kerakyatan yang tumbuh didesa;
  7. Mendorong pembangunan pariwisata yang tumbuh di desa untuk memperluas kesempatan kerja dan mendorong pengembangan usaha-usaha lain yang diakibatkan oleh pembangunan pariwisata sebagai dampat ikutannya, dengan memperhatikan adat, budaya dan pelestarian lingkungan berdasarkan Tri Hita Karana;
  8. Memelihara lampu penerangan jalan yang telah terpasang sebagai penunjang keamanan desa;
  9. Membangun ruangan bersalin sebagai sarana penunjang Pustu Belayu;
  10. Pengadaan papan nama Kantor Desa sebagai pelengkap Pemerintahan Desa;
  11. Pengadaan

2.3.1.3. Bidang Ketertiban dan Keamanan

  1. Memperkuat kelembagaan dan sumber daya manusia, sarana prasarana pertahanan sipil (Hansip) untuk memotifasi peningkatan keamanan desa;
  2. Memelihara yang sudah ada dan membangun sarana pos keamanan lingkungan sebagai fasilitas peningkatan keamanan desa;
  3. Melaksanakan pemilu sebagai pelaksanaan demokrasi;
  4. Melaksanakan pemilihan Kelian Dinas yang masa jabatannya telah berakhir.

2.3.1.4. Pengelolaan Sumber Daya Alam, Linkungan Hidup dan Pembangunan Wilayah

  1. Meningkatkan peran serta masyarakat untuk membantu pemerintah baik pusat ataupun daerah dalam pengelolaan dan pelestarian sumber daya alam hayati dan ekosistemnya dan meningkatkan animo masyarakat dalam upaya pelestarian keanekaragaman hayati

dan lingkungan melalui usaha penangkaran dan rehabilitasi habitat dan bekerjasama dengan lembaga swadaya masyarakat melalui program pembinaan dan penyuluhan;

  1. Mengembangkan sumber daya air dan irigasi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat baik untuk air bersih, irigasi dan kebutuhan lainnya dengan selalu menjaga sumber mata air;
  2. Memberdayakan masyarakat petani subak sebagai pemakai air yang berperan penting sebagai pengelola jaringan irigasi dan saluran utama sampai petak tersier termasuk kebijakan pembanguan air, pola tanam dan pemeliharaan sarana dan prasarana yang ada yang difasilitasi pemerintah;
  3. Menentukan batas-batas daerah pemukiman dan batas-batas cagar budaya/cagar alam sehingga ciri khas daerah dapat dipertahankan;
  4. Membantu upaya pemerintah daerah dalam upaya tertib administrasi pertanahan, tertib hukum perumahan, tertib penggunaan tanah dan tertib kelestarian daya dukung lingkungan hidup.

2.3.1.5. Bidang Penanggulangan Kemiskinan, Perlindungan Sosial dan Peran Perempuan

  1. Membantu pemerintah dan pendataan Rumah Tangga Miskin serta membantu tertib administrasi kependudukan terutama keluarga miskin sebagai perlindungan hukum dan terarahnya pelayanan dan perencanaan pembangunan;
  2. Membantu seluruh intervensi dan kebijakan pemerintah dalam program pengentasan kemiskinan;
  3. Meningkatkan kedudukan dan peran perempuan dalam partisipasinya dalam memperjuangkan kesetaraan dan keadilan gender;
  4. Meningkatkan partisipasi dan kemandirian organisasi perempuan dalam rangka melanjutkan usaha pemberdayaan perempuan serta kesejahteraan keluarga clan masyarakat melaiui peningkatan kapasitas sumber daya rnanusia dan pengadaan sarana prasarana penunjangnya.

2.3.1.6. Bidang Agama dan Sosial Budaya

  1. Memantapkan fungsi, peran dan kedudukan agama sebagai landasan moral, spiritual dan etika dalam penyelenggaraan pemerintahan desa dan kemasyarakatan;
  2. Mengupayakan peningkatan kualitas pendidikan agama melalui peningkatan SDM dibidang pendidikan keagamaan dan peningkatan sarana prasarana yang memadai;
  3. Memberikan pemyuluhan, agama terpadu kepada umat sedharma dimasing-masing banjar adat, generasi muda serta memantapkan pelaksanaan upakara keagamaan dan susila/etika umat beragama;
  4. Mengembangkan dan melestaraikan kelembagaan sosial budaya yang tumbuh di masyarakat melalui peningkatan kapasitas sumber daya manusia serta penyediaan sarana prasarana penunjang selayaknya.

 

2.3.2. Program Pembangunan Desa

2.3.2.1. Bidang Keagamaan

  • Melaksanakan sembahyang bersama;
  • Melaksanakan Upacara Piodalan di Pelinggih Padmasana Kantor Desa;
  • Melaksanakan Upacara Piodalan pada Pelinggih Padma Kaptering;
  • Melaksanakan kegiatan gotong royong dalam rangka hari raya umat Hindu;
  • Bantuan sosial kepada para sulinggih/pemangku;

2.3.2.2. Bidang Kantibmas

  • Meningkatkan Poskamling
  • Pelaksanaan Pemilihan Kelian Dinas
  • Pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah;

2.3.2.3. Bidang Pendidikan Dan Urusan Pemerintahan

  • Penyelenggaraan Pendidikan Usia Dini (PAUD);
  • Melaksanakan wajib belajar 9 tahun;
  • Pemberian hadiah bagi anak berprestasi;
  • Partisipasi dalam pelaksanaan kegiatan pramuka;
  • Berpartisipasi dalam penyelenggaraan pekan olah raga;
  • Mengikuti Bintek, Diklat, Seminar dan Pelatihan bagi aparat desa;
  • Penetapan Peraturan Desa;
  • Penetapan Keputusan Perbekel;
  • Menetapkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa;
  • Memelihara Perdamaian Desa;
  • Melaksanakan rapat-rapat;
  • Pengelolaan kekayaan desa;
  • Meningkatkan disiplin kerja bagi perangkat desa;
  • Melaksanakan pelantikan Kelian Dinas;
  • Melaksanakan tertib administrasi desa;

2.3.2.4. Bidang Ekonomi, Lingkungan Hidup Dan Pembangunan

  • Penguatan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes);
  • Melaksanakan Pungutan Desa;
  • Melaksanakan kegiatan gotong royong;
  • Pemeliharaan air minum desa;
  • Menggali sumber pendapatan desa;
  • Pemeliharaan lampu penerangan jalan;
  • Menggali sumber pendapatan desa;
  • Penataan Wajah Desa
  • Pengadaan tamanisasi
  • Pengadaan kebersihan dan pelestarian lingkungan desa;
  • Pemeliharaan Kantor Perbekel;
  • Pemeliharaan lampu penerangan jalan;
  • Pembangunan ruangan/kamar bersalin;
  • Pemindahan papan nama organisasi/kelembagaan;
  • Pengadaan pintu pagar dorong kantor desa
  • Pembangunan ruangan sebelah barat kantor desa
  • Service aula
  • Peningkatan keberdayaan keluarga miskin;
  • Pengembangan usaha ekonomi keluarga dan masyarakat;
  • Pengembangan Ketahanan Pangan Masyarakat;

2.3.2.5. Bidang Pemuda & Olahraga

  • Pelaksanaan jalan santai;
  • Pengibaran bendera dan pemasangan sepanduk;
  • Mengikuti Pekan Olah Raga Kecamatan;
  • Mengikuti Upacara Peringatan HUT.

2.3.2.6. Bidang Kesehatan & KB

  • Melaksanakan Posyandu;
  • Pemberian makanan tambahan;
  • Pemberian Vit a
  • Mengadakan kegiatan Tanaman Obat Keluarga;
  • Melaksanakan Program Gerakan Sayang Ibu (GSI);
  • Mengupayakan sarana kesehatan tingkat banjar.

2.3.2.7. Bidang PKK & Peranan Wanita

  • Pelaksanaan rapat rutin;
  • Pelaksanaan arisan;
  • Pembinaan Posyandu;
  • Pelaksanaan 10 Program Pokok PKK;
  • Pelaksanaan Administrasi PKK;
  • Melaksanakan pembinaan TOGA;
  • Pelaksanaan gerakan sayang ibu
  • Pendataan orang terlantar, keluarga kurang mampu, lansia dan paca;
  • Penyaluran beras untuk keluarga miskin;
  • Memberikan informasi Jaminan Kesehatan Bali Mandara (JKBM).

2.3.2.8. Bidang Sosial Dan Budaya

  • Pendataan orang terlantar, keluarga miskin, lansia dan paca
  • Membantu pengurusan orang terlantar, keluarga miskin, lansia dan paca
  • Pendataan lembaga adat dan budaya;
  • Pemberdayaan dan Pelestarian Adat dan Budaya;
  • Kerja sama antar lembaga adat;
  • Pemantapan nilai-nilai budaya dan penguatan Lembaga Adat;

 

2.3.3. Strategi Pencapaian

Untuk pelaksanaan program membutuhkan biaya yang tidak sedikit maka dari itu kami dari Pemerintah Desa Peken Belayu selalu berkoordinasi dengan lembaga yang ada seperti BPD, LPM, PKK, Tokoh Masyarakat dan kelompok-kelompok lainnya yang ada di desa, diajak memikirkan, merencanakan dan rmelakasanakan pembangunan.

Setrategi pencapaian yang dilaksanakan adalah mendengarkan informasi, aspirasi masyarakat, mengadakan pendekatan kepada SKPD, yang ada ditingkat kecamatan, tingkat kabupaten dan tingkat propinsi dan pendekatan secara politis menggunakan dana dari pusat seperti dana Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Pedesaan (PNPM-MP), alokasi dana desa (ADD) dan yang tidak kalah pentingnya asalah berswadaya dan gotong royong bersama masyarakat.

Dengan Strategi Pencapaian yang demikian permasalahan/issu yang ada di Desa Peken Belayu, dapat teratasi dan tercapai sesua dengan visinya yaitu “MENUJU DESA BERSIH SEHAT SEJAHTERA BERWAWASAN WISATA”.

 

Desa Payangan

Posted by on Jun 4, 2013 in Profil Desa | 0 comments

DESA PAYANGAN

 

SEJARAH DESA PAYANGAN

Pada jaman terdahulu sebelum adanya penduduk yang menetap di Desa Payangan, Desa Payangan merupakan Hutan belantara yang sangat mengerikan dan penuh dengan keseraman, kemudian suatu saat datanglah seorang yang bermaksud untuk membabat hutan untuk dijadikan tempat tinggal dan sebagai lahan pertanian sebagai tumpuan hidupnya, orang tersebut berasal dari Payangan Kangin, Gianyar dan suatu saat dalam perjalanan menuju Payangan, ditengah perjalanan terjadilah hujan yang sangat lebat dan air sungai sangat besar, maka bingunglah orang tersebut karena tidak bisa melanjutkan perjalannya atau menyebrang untuk melewati sungai tersebut, sehingga dengan penuh kebingungan lalu diam di pinggiran sungai dan mendadak tersengat ketika melihat ada sebatang pohon besar yang membentang diatas sungai, dengan penuh rasa kegembiraan orang tersebut melintasi batangan kayu tersebut.

Ketika orang tersebut sampai diseberang sungai maka kembali melihat ke belakang dan kembali terkejut tak terhingga karena batangan pohon yang tadinya di lintasi mendadak telah berubah menjadi ikan Julit yang sangat besar lalu menghilang di lingkaran air yang besar di sungai itu, ketika itu lalu orang itu duduk dan menyembah pada Ikan tersebut sambil mengucapkan janji tidak akan makan daging ikan julit selama dalam hidupnya dan akan membantu ikan julit bila ditemukan dalam keadaan susah, setelah usai menyembah ikan itu maka orang tersebut melanjutkan perjalanannya kembali.

Setibanya di tempat tujuan orang tersebut lalu menetap di tepian hutan yang telah berhasil di rambaknya terdahulu dan oleh orang itu tempat itu diberi nama Payangan Medi. Sehingga lambat laun perkembangan penduduk dan luas wilayah yang mampu di rambak semakin luas sehingga sampai sekarang telah menjadi beberapa kawasan pemukiman dan lahan pertanian yang subur, namun secara administrasi pemerintahan terdahulunya menjadi wilayah Desa Petiga, dan dengan adanya Pemekaran Desa Tahun 1994 yakni Desa Petiga menjadi 2 (Dua) yakni Desa Petiga (Induk) dan Desa Payangan, yang membawahi 9 Banjar Dinas dan 4 Bendesa Adat dengan jumlah penduduk 3.894 terdiri dari laki 1904 dan Perempuan 1990.

 

PROFIL DESA PAYANGAN

 

PEMERINTAH

Desa Payangan berada dalam lingkup Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan dengan jarak tempuh ke kota Kecamatan selama kurang lebih 15 menit dengan jarak 7 km, dan dengan waktu tempuh kurang lebih 30 menit ke kota Kabupaten dengan jarak 17 km, dan Desa Payangan sendiri mempunyai luas 3720 are, dengan batas -batas wilayah meliputi:

  • Timur               : Desa Tua dan Desa Petiga
  • Selatan            : Desa Geluntung, Desa Dauh Puri, Desa Tunjuk.
  • Barat               : Desa Tajen, Desa Biaung.
  • Utara               : Desa Apuan.

Desa Payangan menjadi Desa Definintif pada tahun 1993 dengan SK No. 624 thn 1993, dari segi pemerintahan, Desa Payangan terbagi atas 9 Banjar Dinas yaitu :

  1. Banjar Dinas Bunutin.
  2. Banjar Dinas Kalibalang
  3. Banjar Dinas Payangan Gereseh
  4. Banjar Dinas Payangan Kaja
  5. Banjar Dinas Payangan Tengah
  6. Banjar Dinas Alas Teruna
  7. Banjar Dinas Alas Sandan
  8. Banjar Dinas Payangan Medi
  9. Banjar Dinas Gelagah.

Berdasarkan sensus penduduk tahun 2010, penduduk Desa Payangan berjumlah:

a. KK   :1036 KK

b. Jumlah Penduduk   : 3965 Jiwa

  • Laki                 : 1934 Jiwa
  • Perempuan     : 2031 Jiwa

Saat ini pasilitas yang ada di Desa Payangan antara lain:

  1. 3 SD yang tersebar di 3 banjar dinas
  2. 5 lapangan volly
  3. 6 meja tenis meja
  4. 3 lapangan bulu tangkis
  5. 1 buah puskesmas pembantu.
  6. 1 polindes

 

KONDISI GEOGRAFIS

Dari segi Geografis Desa Payangan merupakan daerah pertanian yang sangat subur, dengan petani padi sebagai mayoritas, selain itu daerah ini juga menghasilkan tanaman kebun lainnya seperti sayuran, kelapa, pepaya, dan lain-lain. Selain itu di Desa Payangan masyarakat juga telah membentuk kelompok-kelompok tani yang pada akhirnya akan bisa meningkatkan pendapatan masyarakat seperti kelompok Tani Ternak, Kelompok Ukir, dan di tingkat Desa telah berjalan Gapoktan Mandhala Giri yang menaungi usaha peternakan di wilayah Desa Payangan.

 

KONDISI DEMOGRAFI

Dari segi kependudukan, jenis pekerjaan masyarakat di dominasi sebagian Petani clan Buruh. Saat ini Banjar Dinas Payangan Kaja, Payangan Medi, Alas Teruna, Payangan Tengah merupakan sentra Kelompok Ukir. Disamping itu industri ibu rumah tangga juga telah membentuk kelompok Industri Kecil yang bergerak dibidang Pembuatan Jajan Bali, Pembuatan Anyaman Bambu, Pembuatan Biting dan lain-lain.

 

RELIGI, BUDAYA DAN KESENIAN

Dari faktor Religi, seluruh masyarakat Desa Payangan menganut Agama Hindu. Dalam melaksanakan kegitan upacara keagamaan pada umumnya di Desa payangan berjalan sesuai dengan kegiatan keagamaan di tempat-tempat lain karena dengan seringnya diadakan pelatihan-pelatihan tentang keagamaan dan tatanan yadnya yang disesuaikan dengan Parisada tingkat Kabupaten.

Dari segi Kesenian, Masyarakat Desa Payangan memiliki :

  1. 5 Barung Gong.
  2. 4 Barung Anglung
  3. 1 Sekaa Prembon (Budhi Manik Mas) berdiri Tahun 2004, dengan jumlah anggota 22 orang.
  4. 1 Sekaa Wayang Kulit dengan nama BRACUK, yang berdiri Tahun 2006 dengan jumlah anggota 21 Orang.
  5. 9 Sekaa Santi yang tersebar di setiap Banjar Adat di wilayah Desa Payangan.

 

 

 

 

Desa Marga

Posted by on Jun 4, 2013 in Profil Desa | 0 comments

DESA  MARGA

VISI DAN MISI DESA MARGA

Visi :    Terwujudnya masyarakat Marga yang mandiri dan sejahtera malalui pembangunan yang berkelanjutan, berwawasan budaya dan lingkungan yang menitik beratkan pada pertanian dalam arti luas dan bersinergi dengan bidang ekonomi lainnya yang dijiwai semangat Puputan Margarana.

Misi :

  1. Mewujudkan sumber daya manusia yang berkwalitas dan kompetitif
  2. Pemberdayaan masyarakat dalam setiap tahap kegiatan pembangunan
  3. Meningkatkan pengembangan kemitraan dalam pembangunan
  4. Mewujudkan ekonomi kerakyatan yang tangguh di bidang ekonomi melalui program strategis di bidang pertanian dalam arti luas
  5. Mewujudkan sarana dan prasarana dasar masyarakat yang mantap secara kwalitas dan kwantitas
  6. Tetap mengobarkan semangat Puputan Margarana dalam esensinya mengisi pembangunan desa

 

LATAR BELAKANG

Desa adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas-batas wilayah yang berwenang mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat berdasarkan asal-usul adat istiadat yang diakui dan dihormati dalam Sistem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dalam penyelenggaraan pemerintahannya, Desa dipimpin oleh seorang Kepala Desa atau untuk di Kabupaten Tabanan dikenal dengan sebutan “Perbekel” dan dibantu oleh perangkat desa antara lain sekretaris desa dan kepala urusan-kepala urusan yang secara umum bertugas menyelenggarakan urusan pemerintahan pembangunan dan kemasyarakatan sesuai dengan peraturan perundang-urrdangan yang berlaku. Sehingga tujuan akhirnya tercapai suatu tatanan masyarakat yang sejahtera dan mandiri atau yang dikenal dengan masyarakat madani.

Untuk dapat mencapai tataran masyarakat yang demikian diperlukan peran aktif masyarakat dengan memanfaatkan segala potensi yang ada di desa dan melibatkan semua komponen dan lernbaga-lembaga yang ada seperti BPD, PKK, Sekaa Teruna, koperasi, Kelompok Tani dan yang lainnya, yang didalam prosesnya diperlukan pemberdayaan masyarakat melalui upaya-upaya penguatan kelembagaan, peningkatan motivasi dan swadaya kegotong-royongan di Desa yang m     enjadi warisan Budaya kita.

Salah satu upaya Pemerintah dalam mewujudkan hal diatas adalah dengan menilai keberhasilan pelaksanaan pembangunan di Desa rnelalui penyelenggaraan “LOMBA DESA TERPADU” dimana Desa Marga berdasarkan Keputusan Camat Marga Nornor 07/MRG/2008.

 

Sejarah Desa Marga

Diambil dari catatan I Gusti Ketut Sedeng bekas Bendesa Adat Marga tahun 1937 – 1953. Pada jaman dahulu sebelum ada Desa Marga masih merupakan hutan belantara lalu sebagai Desa awal bernama (Uli ngawit) sebagai pendiri bernama I Nyoman Singa dengan jumlah pengikut berjumlah Sanga (Sembilan) mendirikan Desa bernama Pawuman juga mendirikan kayangan bernama Dalem Sengawang. Lalu dari Uli Ngawit lurus ke timur laut di temukan pijakan kaki kidang yang hampir rusak (Rapuh bahasa Bali) kemudian wilayah ini di jadikan pemukiman dan dinamai Kidang Rapuh. Lama kemudian juga mendirikan Dalem (Tempat Suci/Pura) dinamakan Pura Kidang Rapuh, di sebuah hutan tinggal seorang raja dengan pengikutnya bernama Ratu Pering kemudian menetap dan merabas hutan membuat wilayah pemukiman bernama Gelagah, begitu juga mendirikan Pura Dalem bernama Pura Dalem Gelagah. Para pengikut Raja Pering dibuatkan tempat pemukiman di wilayah timur laut Gelagah di beri nama Umah Bali (sekarang Uma Bali). Lalu lama kemudian Sang Ratu Pering membuat pasar, tidak jauh dari Puri (tempat tinggal) disebelah timur diberi nama Kuwuman Lebah. Disebelah selatannya berbatasan dengan Kidang Rapuh (pondok I Nyoman Singa). Dari Kuwoman Lebah setiap hari raja sering bersama pengikut merabas hutan ke arah tenggara sampai akhirnya mendirikan pemukiman bernama Ngebasa (sekarang Br.Dinas Basa di Desa Marga). Beliau juga mendirikan tempat Suci Dalem Ngabasa sekarang disebut Pura Dalem Basa. Beliau juga mendirikan Taman diberi nama Taman Lebah (sekarang Br.Lebah Desa Marga). Ditaman ini ada ditemukan ranting pohon diapit pohon beringin kembar dan besar, ujung dari ranting itu ke utara sampai tidak ditemukan. Kemudian ada lagi orang datang dari Sumatera anaragtag alas (mengikuti hutan dari lebah, kemudian membangun pemukiman bernama Kebon Tagtag. Cerita kembali akar taru yang diapit pohon beringin besar setelah diperhatikan secara seksama pangkalan lantas ditemukan diberi nama pusar (Pusar Marga) lalu diikuti ke utara kemudian diketemukan cabangnya tiga (tetiga) itu namanya pah tiga sekarang adalah desa petiga kemudian perjalanan diikuti cabang yang ke utara cabang yang paling tua saat itu disebut Tua Sekarang (Desa Tua). Perjalanan tetap dilanjutkan ke utara dan kemudian cabangnya tidak nampak jelas, (capuh) sekarang namanya Capuhan/Apuhan/Apuan terus ujungnya ke poh tegal (sekarang Desa Tegal) Sang Raja beserta rombongan karena keburu malam akhirnya bermalam di sini besoknya perjalanan diteruskan ke utara akhirnya ditemukan ujungnya benyah (hancur) sekarangDesa Benyah. Desa ini sebagai batasnya Desa (Kerajaan Marga) lalu Kelian beserta rombongan balik ke Marga. Kembali tinggal di Alas Pering (Hutan Pering) sekarang Br. Alas Pere Desa Geluntung. Pemukiman Beliau diganggu oleh semut hingga akhirnya Beliau kembali ngungsi ke Alas Marga. Kemudian dilanjutkan perjalanan ke timur laut hingga akhirnya menetap di wilayah Perean, beliau beristrikan 2 orang : prami bernama Siluh Pacekan, Penawing bernama Siluh Jepun tidak lama kemudian hamil istri prami hingga melahirkan Putra lanang bernama I Gusti Ngurah Batan Duren. Dipinggir kerajaan ada sebuah pedukuhan yang dihuni oleh seorang dukuh bernama Dukuh Titi Gantung, bersahabat dengan Ida Pedanda Watu Lumbang dan I Gusti Unggasan saking Tambangan Badung. Kemudian diceritakan menyusul istri penawing juga hamil muda tapi diusir oleh prami. Alkisah, diceritakan I Dukuh Titi Gantung merencanakan Upacara Agama Ngodalin ring Sanggah ipun (Bahasa Bali). Ki Dukuh juga mengundang Baginda Raja mengharap bisa hadir pada saat upacara tetapi Raja lupa, tidak bisa menghadiri.

Tapi kebetulan pada saat manis Pengrainan (sehari setelah upacara) Raja punya keinginan berburu dengan 40 orang pengawal di wilayah hutan Padang Ngoling. Dalam perburuan ketika beliau belum dapat satupun buruannya tiba-tiba turun hujan angin amat deras, Baginda Raja aknirnya beserta pengiring berteduh di rumah I Dukuh Titi Gantung, Ki Dukuh Titi Gantung sangat menyambut kedatangan baginda Raja serta minta ijin untuk menghaturkan jamuan juga kepada segenap pengiringnya. Baginda Raja berkenan, serta mengijinkan Ki Dukuh menyiapkannya.

Ki Dukuh mengerjakan membuat serba baru (Sukla) babi, ayam semua baru dipotong ketika semua selesai lalu disuguhkan kehadapan Baginda Raja beserta rombongan. Setelah semuanya selesai Baginda Raja beserta rombonoan kembali ke Kerajaan ketika telah tiba istri prami telah menyiapkan hidangan kepada Raja ketika dipersilahkan serta merta Raja mengatakan kenyang, baru saja makan di rumah Dukuh Titi Gantung, rnendengar pernyataan Raja sepontan Permaesuri marah, menyebutkan Raja nyurud ke rumah dukuh karena baru kemarinnya (Ngodalin). Raja berhasil di panas-panasi hingga akhirnya raja mengutus Manggala membunuh Dukuh Titi Gantung beserta turunannya. Setelah Dukuh Titi Gantung terbunuh lalu Manggala kembali ke Kerajaan melaporkan kepada Raja. Cerita selanjutnya pada besok harinya I Gusti Unggasan dan badung, mampir ke rumah Ki Dukuh sambil berjualan tuak, betapa terkejutnya pedukuhan itu dijumpainya rusak berantakan karena keburu malam akhirnya I Gusti Unggasan memutuskan bermalam di rumah yang telah rusak itu, ketika tertidur I Gusti Unggasan bermimpi bertemu Ki Dukuh dan diberikan sesuatu disuruh mengambil di Merajan, I Gusti langsung terbangun dan langsung menuju Merajan dilihatnya sinar berupa bantal didalamnya ada bergambar senjata, langsung dibawa dan disimpan pada penyandang (Sanan) tuaknya. Pada esok harinya I Gusti Unggasan berjualan kembali menuju wilayah Perean. Setelah itu I Gusti Unggasan diajak menetap di Puri Perean.

Alkisah cerita Perbekel Kuwum Balangan bernama “I Papak” bersama pasukannya disuruh merabas alas Marga tidak seberapa lama tibalah dialas Marga lanjut merabasnya dari Utara ditemukan Lingga diberi nama “Sentaja”. Sante artinya mulai Ja artinya Kaja (Utara) sekarang disebut Pura Sentaje. Akhirnya alas Marga tersebut dijadikan pemukiman. Lantas Raja Perean mengutus “I Gusti Unggasan” untuk tinggal di Marga dan diberikan mengiring istri Raja yang sudah hamil bernama “Si Luh Jepun” diiringi pasukan 40 orang. Lantas menuju Marga membangun tempat tinggal ditengah-tengah hutan Marga. Cerita selanjutnya bahwa perjalanan I Gusti Unggasan bertemu dengan Ida Pedanda Batu Lumbang dan perintah untuk mengajak Si Luh Jepun tangkil kesana pada hari Purnama karena Beliau akan memberikan sesuatu, selanjutnya saat hari Purnama tiba Ida Pedanda (Beliau ingin menitipkan pikiran serta mengatakan bahwa Ni Luh Jepun adalah istri Raja Perean dan sekarang dalam keadaan hamil) darl bayi di dalam perutnya adalah Putra Utama hingga akhirnya beliau berhasrat memberikan kekuatan agar menjadi putra yang berguna setelah itu beliau berkata kalau anak itu lahir agar- diberi nama “Ida Arya” Si Luh Jepun menyetujuinya dan kemudian kembali ke Marga. Pada suatu hari Ida Arya difitnah dikatakan telah memperkosa gadis sudra, hingga akhirnya diburu oleh pasukan bersenjata juga I Gusti Ngurah Beten Duren melaporkan kepada raja bahwa adiknya harus dihukum mati. Karena kedua adalah putra mahkota lantas Raja mengijinkan mencoba berdua untuk berperang dengan perjanjian siapa yang akan kalah kalau lari ketimur lewat dari Sungai Dangkang tidak boleh dikejar. lda Arya menunggu pasukannya yang datang dari Ngabasa Lebah Marga. Setelah pasukan Ngebasa Lebah Marga datang, Raja mengomando peperangan dengan memberikan senjata tetapi tidak boleh memilih. Akhirnya lda Arya mendapatkan “I Baru Bantal”, I Gusti Ngurah Beten Duren mendapatkan “I Baru Upas” miwah “Pustaka” setelah semua bersenjata lalu perang dimulai (perang saudara kakak melawan adik) dan pasukan melawan pasukan I Gusti Ngurah Beten Duren lari ketimur lewat Tukad Dangkang Ida Arya beserta pasukannya kembali menghadap Raja, tapi tiba – tiba Raja Perean membunuh dirinya, Ida Arya tidak mau karena itu adalah Ayahnya. Tapi Ida Arya didesak karena Ida Arya adalah Putra Utama berhak membinasakan segala keangkaramurkaan di bumi ini. Oleh karena itu lalu Ida Arya memusatkan konsentrasinya serta rnengunuskan senjatanya kepada Raja kemudian jenasah sang Raja dimakamkan di “Merajan Taman” pada malam hari membubul keluarlah “Naga Kaang” dipuncak “Beringin Tuka” lalu Ida Arya mendekat ke jenasah Raja serta mendapatkan sabda bahwa Ida Arya tidak diberikan mengupacarai jenasahnya. Setelah peperangan di Puri Perean, Ida Arya menetap menjadi Raja Muda di Puri Agung Perean. Sewaktu – waktu pergi ke Marga yang diiringi oleh pasukannya I Papak bersama Perbekel ngabasa bersama pasukan – pasukannya merencanakan pembangunan “Pura Agung Marga” yang sebagai istana utama Raja juga dilanjutkan pembangunan dengan Pura di empat penjuru dan rakyatnya semua senang dan sangat bakti kepada raja.

Demikian sejarah Marga sebelumnya kemudian sesuai dengan keinginan masyarakat dan Desa Marga yang didukung oleh 9 Banjar Dinas yaitu ; Dinas Anyar, Bugbugan, Tengah, Beng, Tembau, Basa, Lebah, Kelaci, dan Ole menginginkan untuk dimekarkan akhirnya pada tanggal 26 Mei 2003 dengan turunnya Sk Bupati No. 238 Th. 2003. Dengan memekarkan Desa Dinas Marga menjadi tiga : 1. Desa Induk, 2. Desa Marga Dinas persiapan yaitu Desa Marga Dajan Puri dan Desa Marga Dauh Puri. Desa Persiapan Marga Dauh Puri dikepalai oleh Pejabat sementara Kepala Desa bernama lda Bagus Putu Wirawan, Desa Persiapan Marga Dajan Puri dikepalai oleh Pejabat sementara Kepala Desa bernama Ida Bagus Ketut Wardana akhirnya pada tanggal 27 Januari 2004 dengan SK Bupati No. 17 menetapkan Desa Marga Dauh Puri dan Marga Dajan Puri menjadi Desa Definitif. Pada tanggal 25 Januari 2005 dilantik Kepala Desa Definitif oleh Bupati Tabanan untuk Desa Marga Dauh Puri bernama I Nyoman Kertajaya, Desa Marga Dajan Puri bernama Ida Bagus Ketut Wardana dengan Keputusan pengangkatan, Keputusan Bupati No. 19 th. 2005. Kondisi Desa Marga satelah dimekarkan tiga masing-masing membawahi :

  1. Desa Marga terdiri dari 4 Banjar Dinas yaitu : Banjar Dinas Beng, Tembau, Basa, dan Lebah
  2. Desa Marga Dajan Puri terdiri dari 3 Banjar Dinas yaitu Banjar Dinas Anyar, Bugbugan, dan Tengah
  3. Desa Marga Dauh Puri terdiri dari 2 Banjar Dinas yaitu : Banjar Dinas Ole dan Kelaci

 

Desa Marga dengan batas-batas wilayah :

  • Utara        : Desa Marga Dajan Puri
  • Timur        : Desa Selanbawak
  • Selatan     : Desa Tegaljadi dan Desa Kuwum
  • Barat        : Desa Marga Dauh Puri

Sehingga akhirnya kondisi geografis Banjar Dinas di Desa Marga saat ini adalah 4 wilayah Banjar Dinas yaitu :

  1. Banjar Dinas Lebah
  2. Banjar Dinas Basa
  3. Banjar Dinas Tembau
  4. Banjar Dinas Beng

Maka Desa Marga oleh Perbekel dan segenap Perangkat Desa berupaya bekerja keras, mencoba berbagai trobosan, dengan penuh sernangat mengajak masyarakatnya melakukan pembangunan diberbagai sektor, guna segera dapat maju melangkah bersama seperti desa-desa lainnya. Perbekel Marga bersama rakyat selalu berusaha mendahulukan kepentingan masyarakat untuk mewujudkan keberhasilan dalam pembangunan.

 

Pemerintahan :

Desa Marga berada dalam lingkup Kecamatan Marga dengan jarak tempuh 10 menit dari Kota Kecamatan dan berjarak sekitar 12 Km dari Kota Kabupaten, memiliki luas wilayah sekitar 194,029 Ha. Batas-batas Desa Marga meliputi :

  • Sebelah Utara        : Desa Marga Dajan Puri
  • Sebelah Timur       : Desa Selanbawak
  • Sebelah Selatan    : Desa Kuwum
  • Sebelah Barat        : Desa Marga Dauh Puri

Dari segi Pemerintahan, Desa Marga terbagi atas 4 Banjar Dinas yaitu : Banjar Dinas Lebah, Banjar Dinas Basa, Banjar Dinas Beng, dan Banjar Dinas Tembau. Saat ini (berdasarkan sensus penduduk tahun 2011) penduduk Desa Marga berjumlah :

Laki-laki : 1.598
Perempuan : 1.669
Jumlah : 3.267
KK : 931

Saat ini fasilitas yang ada di Desa Marga antara lain 1 buah Bale Serbaguna, 5 buah PAUD yang tersebar di masing-masing Banjar, 1 buah Taman Kanak-Kanak, 2 buah Sekolah Dasar, dan 1 buah SMP. Untuk tenaga kesehatan, di Desa Marga terdapat beberapa tenaga medis antara lain :

No Nama Petugas Medik Dokter/Bidan Waktu Praktek Alamat No.Telp
1 Sri Adnyani Bisan Desa Senin s/d Jumat(08.00 s/d 13.00) Desa Marga
2 Ni Made Redhi Astuti Bidan Setiap hari(16.00 s/d 22.00) Br. Basa
3 Ni Wayan Muji Bidan Setiap hari(16.00 s/d 22.00)

 

Kondisi Geografis :

Dari segi geografis, Desa Marga merupakan daerah pertanian dengan petani padi sebagai mayoritas. Selain itu, daerah ini juga menghasilkan tanaman kebun lainnya seperti sayuran, kelapa dan lain-lain. Selain itu saat ini di masyarakat juga telah terbentuk kelompok-kelompok tani yang pada akhirnya akan bisa meningkatkan pendapatan masyarakat seperti kelompok tani ikan, kelompok ternak dan lain-lain yang kesemuanya telah tergabung dalam gapoktan (gabungan kelompok tani “natar sari”).

 

Kondisi Demografi :

Dari segi kependudukan jenis pekerjaan masyarakat masih didominasi dari sebagai petani dan buruh.

 

Relegi Budaya dan Kesenian :

Dari faktor religi sebagian besar masyarakat Marga menganut Agama Hindu namun dengan kondisi sekarang terdapat beberapa persen saja penduduk yang beragama Islam, hal ini dikarenakan adanya penduduk pendatang yang diam sementara di wilayah Desa Marga bekerja sebagai pedagang.

Desa Marga terdiri dari 1 Desa Pekraman yaitu Desa Pekraman Marga dan 4 Banjar Adat. Desa Pekraman Marga mempunyai kegiatan yang sangat unik terutama di Bidang Upacara Pitra Yadnya yaitu Ngaben Massal (Ngerit). Ngaben Massal dilaksanakan setiap 5 (lima) tahun sekali dimana orang-orang yang sudah meninggal sekitar lima tahun tetapi belum diaben dikumpulkan di satu tempat atau di upacarai, dibiayai, dikerjakan secara bersama-sama dengan tidak memandang statusnya. Ngaben Massal dilaksanakan secara bersama-sama mengekedepankan kebersamaan, menekan biaya, membantu warga yang kurang mampu. Dan di Desa Marga terdapat Pura Dangkhayangan yaitu Pura Pusartasik peninggalan Puri Marga. Pura Pusartasik ini mempunyai sejarah erat kaitannya dengan Pura-Pura yang berada di Kabupaten Tabanan terbukti setiap ada Tapakan Ida Betara yang datang (lunga ke wilayah Desa Marga) pertama kali didatangi pasti simpang ke Pura Pusartasik setelah itu baru dilanjutkan ke Pura-Pura lain.

Di Desa Marga terdapat 3 Puri yaitu Puri Agung Marga, Puri Oka dan Puri Taman, dari ketiga Puri tersebut yang paling banyak mempunyai peninggalan sejarah yaitu Puri Agung Marga yang mungkin bisa dikembangkan sebagai pariwisata.

Dari segi kesenian Desa Marga mempunyai kesenian wayang kulit, topeng dan kecak.

 

Potensi Wisata :

Secara khusus Desa Marga tidak memiliki tempat wisata. Tetapi kedepannya Desa Marga bisa dikembangkan menjadi Daerah Pariwisata karena Desa Marga mempunyai potensi yaitu 1 Pura Dang Kahyangan dan 3 Puri yang banyak mempunyai benda-benda sejarah.

 

Desa Kuwum

Posted by on Jun 4, 2013 in Profil Desa | 0 comments

DESA KUWUM

Secara tofograpi, Desa Kuwum, Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan merupakan daerah landai dengan ketinggian : 300 – 500 meter diatas permukaan laut, curah hujan, 2.000 mm / tahun, dengan batas wilayah administrative sebagai berikut :

  • Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Marga
  • Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Selanbawak
  • Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Batannyuh
  • Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Tegaljadi

Luas wilayah Desa Kuwum adalah seluas 278 Ha. Secara administratif desa Kuwum. Terbagi atas 5 (Lima) Banjar Dinas / Dusun yang meliputi :

1. Banjar Dinas Kuwum Tegallinggah

2. Banjar Dinas Kuwum Mambal

3. Banjar Dinas Kuwum Anyar

4. Banjar Dinas Kuwum Ancak

5. Banjar Dinas Kuwum Ancak Bija

Penggunaan lahan di wilayah Desa Kuwum. Sekarang dipilih menjadi daerah pemukiman : 64 Ha.  Tanah Sawah : 127 Ha. Pertanian Tanah Kering : 93 Ha. Penggunaan lahan lain – lain : … Ha. Perkantoran : 3 Ha. Tanah Lapangan : 1 Ha.

Desa Kuwum memiliki jalan sepanjang : 49 Km dengan rincian : Jalan Nasional : – Km. Jalan Propinsi : 3 Km. Jalan Kabupaten : 3 Km. Jalan Desa : 7 Km dengan kondisi beraspal : 3,5 Km. Jalan Berbeton : – Km. dan jalan Tanah : – Km.

 

SELAYANG PANDANG / SEJARAH DESA

Berdasarkan cerita dari mulut ke mulut terutama dari penglingsir Babad Mengwi (salinan dari Gedung Kartya Singaraja Nomor Va.1340/12) dapat diuraikan secara singkat sebagai berikut:

Desa Kuwum pada masa kerajaan adalah merupakan Kerajaan Belayu, dan Belayu merupakan Raja bawahan dari Kerajaan Mengwi, sudah tentu berkaitan erat dengan sejarah Kerajaan Belayu dan Mengwi, menurut babad mengwi pertama Kerajaan Mengwi I Gusti Agung Putu dibesarkan oleh Raja Marga yaitu I Gusti Ngurah Bebalang. I Gusti Agung Putu adalah cucu dari I Gusti Agung Maruti, patih Agung dari Kerajaan Gegel yang pernah membrontak terhadap Raja Gegel Dalem I Made tahun 1651 -1670.

I Gusti Agung Putu yang kalah perang di Beringkit (Mengwi) ditahan diserahkan pada Raja Tabanan, akhirnya Raja Marga memintanya, dan dipelihara di Marga yang sebaya serta rukun dengna adik Raja Marga yang bernama I Gusti Ngurah Celuk. Pada suatu waktu I Gusti Agung Putu bertapa di Gunung Mangu lalu mendapatkan kesaktian dan wahyu disana untuk bisa merebut kekuasaan lagi di Kapal .

Atas seijin Raja Marga beliau bersama I Gusti Ngurah Celuk dengan iringan 40 orang yang kuat merabas hutan disebelah selatan marga (Wrat Mara Negara) mungkin waktu merabas tersebut beliau bersemedi mohon doa restu kepada nenek moyangnya di alas Rangkan Keramas Gianyar , sehingga mungkin di tempat tersebut dibuat pelinggih yang juga bernama Pura Dalem Rangkan diperkirakan akhir Abad ke 17 sebelum masehi, setelah sampai di sebalah selatan Belayu sekarang I Gusti Agung Putu mendirikan istana yang disebut Puri Belayu, yang diperkirakan awal abab ke 18 sebelum masehi. Pernah membuat kesalahan mengganti Keris Pusaka Puri Marga dengan Keris Palsu sehingga Raja Marga marah dan akhirnya bermusuhan dengan Mengwi maupun Belayu yang setia terhadap Mengwi, Raja Marga bersekutu dengan Raja Tabanan akibatnya Marga bermusuhan dengan Belayu, untuk menjaga perbatasan antara Belayu dengan Marga maka dikirimlah penduduk yang dianggap pemberani dan sakti ke Kuwum. Penduduk didatangkan dari Belayu Batannyuh, Umadiwang, Peken Beringkit, Jebaud, dan dari wilayah Mengwi, Mambal, Gerih, Bongkasa, dan lain – lain.

Kedatangan I Gede Pasek ke Kuwum yang berasal dari Bongkasa karena jasa Kakek mengobati Raja Mengwi mendapat hadiah tempat menetap/tinggal baik di Bongkasa maupun di tempat lainnya. Atas perintah Raja Mengwi I Gede Pasek menjadi Parekan di Puri Belayu serta Mengwi, kemudian ia diberikan merabas hutan di sebelah utara belayu dan mendapat anugrah di Pura Catu serta membuat suatu kedesaan Kuwum Ancak dengan pengikutnya sekitar 40 kepala keluarga. Lama kelamaan karena niat Raja Belayu I Gusti Agung Raka ingin mempersunting putri I Gede pasek, maka terjadilah pembunuhan dan menghancurkan terhadap Desa Kuwum Ancak yang dimulai dengan perkelahian ditempat judian sambungan ayam di jabe Puri Belayu dan akhirnya terjadilah pengungsian kearah barat laut yaitu ke Bija. Akibatnya semua pengikut I Gede Pasek tunduk kembali ke Belayu, dan untuk mengisi penduduk di Desa Kuwum Ancak maka dikirimlah rakyat dari daerah belayu, untuk Kuwum Mambal didatangkan bantuan rakyat dari wilayah Mengwi yaitu : MambaI, Abiansemal, Gerih dan lain lain.

Untuk Kuwum Tegallinggah didatangkan pula dari daerah belayudan daerah Mengwi, dan Kuwum Anyar dikirim seorang brahmana yaitu Ida Made Tegal dengan 20 kepala keluarga sebagai iringan. Banjar Kuwum Anyar dan Bija dibuat melintang arah barat timur untuk menbendung serangan dari Marga, sebelah Utara Desa dibuatlah belumbang (Parit pertanahan) yang diisi penuh dengan ranjau – ranjau yang sekarang sangat baik untuk tempat tumbuhnya pohon bambu.

Mengingat runtuhnya Mengwi tahun 1892 yang diserang dari segala penjuru yaitu Tabanan, Badung, Gianyar, Ubud, dan Bangli, kemudian Kuwum dipenuhi dengan kubu kubu sekitar kurang lebih tahun 1850 dalam perkembangan selanjutnya Kuwum diikat oleh Raja Belayu dalam satu Desa Adat bersama Desa Selambawak, Belayu, Kukuh, Tegaljadi, Umabian, Bajera, dan Kuwum dengan maksud politik persatuan. Oleh karena perkembangan jaman Kuwum mulai non aktif pada Desa Adat Belayu sekitar tahun 1964 dan kini sudah terbentuk Desa Adat yaitu Desa Adat Kuwum Ancak dengan satu kelompok Trikayangan dan Kuwum Tegallinggah, Kuwum Anyar dan Kuwum mambal merupakan satu desa adat dilengkapi dengan sarana Trikayangan. Untuk mengawasi kesetiaan rakyat Kuwum karena disangsikan dan supaya jangan mengalih ke Marga maka warga Raja Belayu disuruh mengawasi masing – masing Banjar yang ada diwilayah Kuwum yaitu :

  1. Banjar Kuwum Tegallinggah diawasi oleh Puri Dangin
  2. Banjar Kuwum Mambal diawasi oleh Puri Saren Kelod
  3. Banjar Kuwum Ancak diawasi oleh Keluarga Puri Saren Rangki
  4. Banjar Kuwum anyar diawasi oleh Keluarga Puri Anyar

Dan selanjutnya sebagai tanda kesetiannya kepada Raja Belayu maka setip tahun pada Purnama sekitar bulan April pada purnamaning sasih kedase dilakukan upacara mesaji (mepaeed) yang diaturkan dipuri batukaru dan sekaligus untuk mohon doa restu keselamatan dari Dewa yang bertahta di Pura Besakih yang diistanakan di Puri Batukaru berupa air suci (Pekuluh) untuk keselamatan tumbuhan terutama padi dan palawija disawah yang merupakan sumber penghidupan masyarakat Kuwum sehingga upacara mepaed itu sampai sekarang masih berlaku.

Perkembangan selanjutnya pada tahun 1995 yang lalu Desa Kuwum yang terdiri dari empat dusun yang salah satu dusunnya kemudian dikembangkan menjadi dua dusun. Sehingga Desa Kuwum sampai saat ini menjadi Lima Dusun. Dari data periode kepemimpinan Kepala Desa sejak jaman penjajahan telah beberapa kali mengalami pergantian Kepala Desa dengan istilah sebutan sesuai jamannya peraturan. Yang mengaturnya dengan semua pimpinan Desa tersebut telah melakukan misinya untuk membangun Desa sesuai dengan situasi dan kondisinya saat itu yang secara kongkrit dalam artian fisik terlalu sulit untuk diidenfikasikan saat ini, adapun Kepala Desa yang pernah memegang Jabatan di Desa Kuwum sejak jaman penjajahan sampai sekarang yakni :

  1. I Gusti Ngurah Kantor (Alm) dari Kuwum Mambal Th. 1964 s/d 1976
  2. I Ketut Moyongan (Pan Ruki) (Alm) dari Kuwum Tegallinggah Th. 1951 s/d 1963
  3. I Wayan Sarga Wijaya (Alm) dari Kuwum Mambal Th. 1964 s/d 1976
  4. I Nyoman Suderi (Alm) dari Kuwum Ancak Th. 1978 s/d 1988
  5. I Ketut Tika dari Kuwum Ancak Tahun 1988 s/d 1998
  6. Drs. I Wayan Wetra Suyasa dari Kuwum Mambal Th. 1998 s/d 2003
  7. I Wayan Wiryana dari Kuwum Mambal Tahun 2003 s/d sekarang

Demikian sejarah singkat Desa Kuwum dengan pimpinan Desanya yang tiap saat juga mengalami perubahan sesuai dengan lajunya perubahan jaman dan eraglobalisasi pada saat ini.

 

Visi dan Misi Kabupaten Tabanan

adalah : Terwujudnya peningkatan kesejahteraan masyarakat Tabanan melalui pembangunan yang berkelanjutan berwawasan Budaya dan Lingkungan yang menitik beratkan pada pertanian dalam arti luas dan bersinergi dengan pariwisata, dan ada 9 (Sembilan) bidang prioritas pembangunan adalah :

  1. Bidang Kesehatan Tabanan Tahun 2007
  2. Bidang Pendidikan Tabanan Cerdas 2008
  3. Bidang Pertanian Tabanan Kota Agro Tahun 2010
  4. Bidang Budaya dan Pariwisata Tabanan Taksu Bali 2010
  5. Bidang Ekonomi Kerakyatan Pencapaian LPE Tabanan 7 % Tahun 2010
  6. Bidang Aparatur Pelayanan Prima Tahun 2008
  7. Bidang Ekonomi Kerakyatan Pencapaian LPE Tabanan 7 % Tahun 2010
  8. Bidang Tata Ruang Tabanan Tertib Ruang 2010
  9. Bidang Trantib Tabanan Aman Tertib dan Nyaman 2008

 

Visi Desa Kuwum

Visi (Cita-cita) yang hendak dicapai masyarakat desa Kuwum adalah : Membangun Desa secara berkesinambungan untuk mengentaskan kemiskinan guna menuju masyarakat yang lebih sejahtera.

 

Misi Desa Kuwum

Misi masyarakat Desa Kuwum dalam mencapai masyarakat sejahtera berdasarkan Visi diatas dengan cara mengembangkan dan membangun di bidang peningkatan kwalitas dan kapasitas masyarakat (dibidang pendidikan dan kesehatan) prasarana dan sarana dasar ekonomi yang meliputi :

  1. Pengembangan dan perbaikan jalan desa / jalan subak
  2. Membantu Komite didalam ikut serta mensukseskan Pendidikan di Desa Kuwum
  3. Posyandu
  4. Pemgembangan Jaringan tranmisi air minum dan fasilitas masyarakat lainnya.
  5. Meningkatkan di Sektor Pertanian untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat Desa Kuwum
  6. Meningkatkan di sektor Usaha Ukir kayu/Still Bali dan Ukir Batu Padas untuk menunjang kesejahteraan masyarakat Desa Kuwum

 

Demografi

l. Data Penduduk

Jumlah Penduduk Laki clan Perempuan di masing – masing dusun adalah sebagai berikut :

No

Nama Dusun

Jumlah KK

Jumlah Penduduk

Jumlah Anggota

Laki-laki

Perempuan

Keluarga

1.

Br. Kw.Tegallinggah

258

2.

Br. Kw. Mambal

146

3.

Br. Kw. Anyar

80

4.

Br. Kw. Ancak

208

5.

Br. Kw. Ancak Bija

83

Jumlah

775

 

II. Agama

Masyarakat Desa Kuwum sangat toleransi / saling menghargai antar umat beragama satu dengan yang lainnya yaitu jumlah penduduk yang beragama Hindu 2.814 orang dan beragama Islam 8 orang.

 

III. Mata Pencaharian

Pemerintahan Desa senantiasa tetap memperhatikan di bidang Pendidikan karena pencaharian penduduk Desa Kuwum adalah mayoritas mempunyai mata pekerjaan bertani yaitu sekitar 50 %, pegawai 10%, dan pedagang / buruh / Jasa dan lain – lainnya 40%.

 

IV. Pendidikan

Masalah pendidikan adalah masalah mendasar untuk mengentaskan buta aksara untuk menuju peningkatan sumber daya manusia dimana di Desa Kuwum sudah ada 1 buah TK, 2 buah SD dan 1 Buah SMU Negeri 1 Marga di Kuwum dan tingkat pendidikan di desa Kuwum adalah :

1. Belum Sekolah = Orang
2. T K = 48 Orang
3. SD sedrajat = 300 Orang
4. SUP sedrajat = 94 Orang
5. SLTA sedrajat = 80 Orang
6. S.1 = 19 Orang
7. S.2 = Orang
8. S.3 = Orang

 

V. Kesehatan

Dibidang kesehatan tidak ada masalah karena masyarakat Desa Kuwum itu sudah dilayani oleh 1 (Satu) buah Puskesmas Pembantu dan setiap hari Kamis ada kunjungan Dokter, disamping itu banyak bidan-bidan praktek dan oleh Dokter yang ada di wilayah Desa.

No Nama Bidan Waktu

Praktek

Alamat No Telp
1 Ni Made Windari Desa 07/12 Wt Desa penebel  

 

VI. Kelembagaan

Dibidang kelembagaan di Desa Kuwum sangat banyak lembaga­-lembaga yang menangani tentang Pemerintah Desa maupun lembaga yang menangani masalah penanganan permasalahan sosial maupun budaya seperti BPD, PKK, Adat, Sekaa Teruna, Karang Taruna, Sekaa Gong / Angklung, Kelompok Ternak, Ukir Stil Bali, Pertanian.

 

VII. Kondisi umum

Di Indonesia masalah musim mungkin sama kondisinya dan khusus di Desa Kuwum, kami mengenal 3 jenis musim yaitu :

1. Musim Kemarau

2. Musim Penghujan

3. Musim Panca Roba

 

Keadaan Sosial

Jumlah penduduk Desa Kuwum berdasarkan hasil sensus pada tahun 2010, adalah sebanyak 2.822 jiwa, terdiri dari 1.422 jiwa penduduk laki-laki dan 1.400 jiwa penduduk perempuan, yang terdiri dari 775 KK. Sedangkan jumlah RTM sebanyak 106 RTM.

Struktur penduduk menurut pendidikan menunjukkan kualitas sumber daya manusia yang dipunyai Desa Kuwum yaitu yang berusia pada usia pendidikan dasar 7 tahun s/d 16 tahun (pendidikan sekolah dasar dan menengah) yang belum pernah sekolah 18%, sedang mengikuti pendidikan 75% dan sisanya 7% tidak bersekolah lagi.

Sedangkan yang berusia diatas 16 tahun (diatas usia pendidikan dasar) yang belum pernah sekolah 7%, sedang mengikuti pendidikan 14% dan sisanya 0,26% tidak bersekolah lagi, baik pada tingkat lanjutan dan perguruan tinggi.

Struktur penduduk menurut mata pencaharian menunjukkan bahwa sebagian besar penduduk menggantungkan sumber kehidupannya disekitar pertanian (50%), sektor lain yang menonjol dalam penyerapan tenaga kerja adalah perdagangan (10%), sektor industri rumah tangga dan pengolahan (2%), sektor jasa (8%) dan sektor lainnya seperti pegawai negeri, karyawan swasta dari berbagai sektor ( 30%).

Struktur penduduk menurut agama menunjukkan sebagian besar penduduk Desa Kuwum, beragama Hindu (99,02%), Islam (0,08%),

Dalam konteks ketenagakerjaan ditemukan bahwa 56,4 % penduduk usia kerja yang didalamnya 14,2 % angkatan kerja dan 42,2 % bukan angkatan kerja.

Kebudayaan daerah Desa Kuwum tidak terlepas dan diwarnai oleh Agama Hindu dengan konsep “Tri Hita Karana” (hubungan yang selaras, seimbang dan serasi antar manusia dengan Tuhannya, manusia dengan manusia dan manusia dengan lingkungannya).

 

Keadaan Religi Budaya dan Kesenian

Dari segi Religi sebagaian besar masyarakat Desa Kuwum menganut Agama Hindu, terdapat hanya beberapa orang saja yang beragama Islam, hal ini dikarenakan adanya penduduk pendatang yang berdomisili dan tinggal sementara di Desa Kuwum yang bekerja pada sektor buruh.

Dari segi kesenian di Desa Kuwum terdapat dua keloampok kesenian yang sangat menonjol berupa Joged yang berasal dari Banjar Dinas Kuwum Mambal dan Kesenian Gender yang berasal dari banjar Dinas Kuwum Anyar.

 

Keadaan Ekonomi

Struktur perekonomian Desa Kuwum masih bercorak agraris yang menitik beratkan pada sektor pertanian. Hal ini didukung oleh penggunaan lahan pertanian masih mempunyai porsi yang tersebar sebanyak 50 % dari total penggunaan lahan desa. Juga 50 % mata pencaharian penduduk menggantungkan hidup pada sektor pertanian. Pada sektor ini komoditi yang menonjol sebagai hasil andalan adalah padi dan palawija. Beberapa sektor ekonomi yang tergolong economic base dan menonjol disamping sektor pertanian adalah, bangunan Stile Bali.

Pada sektor industri rumah tangga dan pengolahan termasuk didalamnya adalah kerajinan ukir, jahit untuk banyak berkembang secara perseorangan yang banyak menyerap tenaga kerja. Pada sektor jasa, yang menonjol adalah tumbuhnya lembaga/institusi keuangan mikro berupa Koperasi. LPD sebagai pendukung ekonomi desa. Hal ini diharapkan akan membawa dampak positif dalam perkembangan ekonomi desa secara keseluruhan. Disamping itu sektor jasa yang lain adalah Koperasi Pertukangan dan Sektor industri yang berkembang di desa Kuwum juga diharapkan mampu mendorong perkembangan ekonomi desa secara keseluruhan, karena sektor ini mempengaruhi perkembangan sektor­-sektor yang lainnya seperti peternakan.

 

KEADAAN PEMERINTAHAN DESA KUWUM

Pemerintahan Desa Kuwum, Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan, adalah desa kami yang terletak di tengah – tengah Kecamatan Marga dengan :

a. ORBITASI

a.1. Jarak dari ibu kota Kecamatan : 2 Km

a.2. Jarak dari ibu kota Kabupaten :12 Km

a.3. Jarak dari ibu kota Propinsi : 35 Km

b. IKLIM

b.1. Curah Hujan : 4.500 Mm

b.2. Jumlah Bulan Hujan : 6 Bulan

b.3. Suhu Rata – rata : 23°C

b.4. Tinggi Tempat : 300-500 Mdl

b.5. Bentangan Wilayah : Dataran Rendah

c. PEMERINTAHAN

Desa Kuwum yang dipimpin oleh seorang Perbekel berdasarkan pemilihan oleh Masyarakat yang mempunyai Visi dan Misi yang mengacu kepada Visi dan Misi Kabupaten.

 

Pembagian Wilayah Desa

Di Desa Kuwum, untuk memperlancar jalannya roda pemerintahan desa seorang Kepala Desa/Perbekel sejak dari dulu telah membagi wilayah – wilayahnya dengan batas – batas yang jelas baik dengan batas alam maupun dengan batas buatan. Maka dari itu Desa Kuwum dibagi menjadi 5 (Lima) dusun yang dipimpin oleh seorang Kelian Banjar Dinas, yang terdiri dari :

1. Banjar Dinas Kuwum Tegallinggah

2. Banjar Dinas Kuwum Mambal

3. Banjar Dinas Kuwum Anyar

4. Banjar Dinas Kuwum Ancak

5. Banjar Dinas Kuwum Ancak Bija

 

Struktur Organisasi Pemerintah Desa

Struktur kelembagaan di Desa Kuwum disamping kelembagaan administratif pemerintahan desa dan kelembagaan yang muncul atau yang didorong keberadaannya dan motif ekonomi, budaya, kesehatan, pendidikan dan sosial politik.

Kelembagaan dari pemerintah desa antara lain : Pemerintah Desa, BPD, LPM, PKK Desa, PKK Dusun/Banjar Dinas, dari Ekonomi misalnya Koperasi, LPD, Kelompok Usaha Kecil, Kelompok Tani, Kelompok Ternak dan lain-lainnya. Dari pendidikan seperti Komite Sekolah dan Yayasan TK (taman Kanak-Kanak) dari Kesehatan seperti Posyandu, Kelompok Dana Sehat. Dari Sisi Budaya seperti Sekaa Gong, Sekaa Santi, dan Sekaa Tari, dari Karang Taruna, Sekaa Taruna, dan Lembaga.

Sisi Sosial dan Politik seperti Subak Basah.

Mengenai susunan organisasi Pemerintah sebagai berikut :

  1. Perbekel : I Wayan Wiryana
  2. Sekretaris : I Ketut Dastra, S.Sos.
  3. Kasi Pemerintahan : I Gede Made Nurata
  4. Kasi Pembangunan : I Made Gendat Artana
  5. Kasi Kesejahteraan : Ni Made Sukarningsih
  6. Kaur Umum : Ni Ketut Yaniasih
  7. Kaur Keuangan : Si Putu Ariani
  8. Kaur Administrasi : I Wayan Santika
  9. Pemijian Desa : Ni Wayan Sri Wiratni
  10. Kelian Banjar Dinas Kw.Tegallinggah : I Wayan Dana
  11. Kelian Banjar Dinas Kw. Mambal : I Ketut Suarna, SH
  12. Kelian Banjar Kw. Anyar : I Nyoman Sudarma
  13. Kelian Banjar Kuwum Ancak : I Nyoman Ginarsa
  14. Kelian Banjar Kuwum nAncak Bija : I Nyoman Suaniya

 

Bagan Susunan Organisasi Pemerintahan Desa Kuwum

 

Rencana Kegiatan

Dengan melihat Potensi dan Masalah di Bab III dengan permasalahan – permasalahan yang ada di Desa Kuwum dengan potensi yang ada maka kami mempunyai keyakinan bahwa semua permasalahan tersebut dapat diatasi atau dilaksanakan apabila didukung oleh pemerintah baik Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah lewat program – program yang ada.

Berdasarkan hasil pengkajian tindakan pemecahan masalah melihat dari pengelompokan masalah, penyebab potensi, alternatif tindakan pemecahan masalah dan tindakan yang layak dan penentuan peringkatan tindakan dapat kami uraikan adalah sebagai berikut :

  1. Transportasi kurang lancar karena jalan sepanjang 7 Km masih jalan tanah. Melihat potensi yang ada seperti lahan, tenaga, batu dan pasir, permasalahan itu bisa diselesaikan dengan rabat beton atau diaspal.
  2. Dibeberapa titik baik di jalan kabupaten, jalan desa, maupun tempat ibadah lainnya banyak tanah yang longsor karena tanahnya labil dan melihat potensi yang ada seperti lahan, tenaga, batu, dan pasir hal itu bisa dicegah dan diselesaikan dengan penghijauan dan disender dengan batu pasangan.
  3. Kelompok – kelompok ekonomi / UEP di desa belum dapat berjalan dengan baik / optimal. Potensi : kelompok, pengurus, masyarakat perlu ada pelatihan / penyuluhan dan penambahan modal.
  4. Karena SDM masih rendah dan sarana prasarana kurang maka perangkat desa dinilai kurang dalam pemberian pelayanan kepada masyarakat. Potensi Perangkat Desa, Sarana Prasarana perlu ada pelatihan dan penyuluhan.
  5. Setiap musim hujan jalan kabupaten maupun jalan desa selalu kebanjiran karena saluran dan plat saluran kurang bagus. Potensi seperti lahan dan tenaga ada perlu ada gotong royong untuk perbaikan saluran.
  6. Proses belajar mengajar kepada anak – anak TK, SD dan SLTA belum dapat belajar dengan baik karena anak – anak TK ada yang belum punya gedung yang bagus dan SD dan TK belum dipagar. Dengan potensi anak, guru, komite, lahan dapat diatasi dengan membangun gedung baru dan pemagaran.
  7. Kesehatan masyarakat Desa Kuwum masih rendah faktor kemiskinan dan lingkungan kotor. Potensi puskesmas, tenaga medis, kader posyandu bisa diatasi dengan penyuluhan dan kebersihan lingkungan.
  8. Pelayanan air bersih / PDAM di Desa Kuwum belum optimal dan masyarakat masih ada komplin dari segi pembayaran karena pipa tranmisi banyak yang bocor dan meteran rusak. Potensi seperti petugas, lembaga dan maysarakat bisa diatasi dengan perbaikan pipa tranmisi dan penggantian meteran.
  9. Karena banyak anak – anak usia sekolah di Desa Kuwum dan faktor orang tua miskin masih ada anak yang putus sekolah dengan potensi guru, komite, lembaga, pengusaha bisa diatasi dengan pemberian beasiswa.
  10. Batas Desa Kuwum dan Desa Batannyuh belum jelas yang bisa menimbulkan keributan. Potensi laha, lembaga, pemerintah, tenaga untuk mencegah keributan perlu dibangun Tapal Batas.
  11. Hasil pertanian dijual dengan harga murah karena dibeberapa subak maupun subak abian dengan melihat potensi yang ada seperti Koperasi, Pengepul, Gapoktan dapat diatasi dengan pembukaan jalan baru.
  12. Karena subak dibeberapa tempat belum punya tempat pertemuan / balai subak potensi seperti lahan dan tenaga, mengingat Balai Subak sangat penting untuk bermusyawarah perlu dibangun Balai Subak.
  13. Pelaksanaan upacara agama belum dapat berjalan dengan baik atau khusuk karena SDM Pemangku dan Serati masih rendah dan sarana prasarana agama banyak yang rusak dengan melihat potensi seperti Jero mangku, Serati, lembaga, lahan, tenaga perlu ada pelatihan dan penyuluhan dan perbaikan pembangunan sarana prasarana agama.

 

Program Pembangunan Desa

Dari potensi dan masalah yang telah ditetapkan sebelumnya dan dihubungkan dengan perencanaan visi dan misi Desa Kuwum maka ditetapkan rencana pembangunan desa untuk 5 (lima) tahun ke depan adalah sebagai berikut :

  1. Bidang Transportasi yaitu di Desa Kuwum masih banyak jalan – jalan desa masih jalan tanah yang sangat sulit untuk dilalui yaitu sepanjang 7 Km dengan lokasi tersebut di beberapa subak Desa Kuwum
  2. Dibeberapa titik banyak tanah yang longsor karena tanahnya labil baik di jalan kabupaten, jalan desa maupun di tempat – tempat ibadah yang perlu dilaksanakan dengan penyenderan
  3. Bidang Ekonomi : untuk menumbuhkan Ekonomi Pedesaan yaitu untuk memberdayakan masyarakat dan potensi yang ada perlu untuk mengadakan pembinaan – pembinaan dan penyuluhan – penyuluhan terhadap kelompok – kelompok Ekonomi masyarakat dan mencarikan modal pinjaman.
  4. Bidang Pelayanan Masyarakat, karena sumberdaya aparatur Perangkat Desa masih rendah perlu diadakan pelatihan dan perlengkapan serana prasarana.
  5. Setiap musim hujan di jalan kabupaten maupun di jalan desa selalu kebanjiran karena saluran air kurang bagus di beberapa lokasi di Desa Kuwum yang perlu diperbaiki.
  6. Bidang Pendidikan, proses belajar mengajar belum dapat berjalan dengan optimal terutama anak -anak TK belum punya sarana bermain yang lengkap
  7. Bidang Kesehatan, Kesehatan masyarakat Desa Kuwum masih rendah disebabkan oleh faktor kemiskinan dan lingkungan masih kotor untuk mengatasi hal tersebut perlu diadakan penyuluhan – penyuluhan dan memberdayakan potensi yang ada dan dilaksanakan secara kontinyu
  8. Pelayanan Air bersih belum dapat berjalan dengan optimal dan masih ada komplin dari segi pembayaran, disebabkan oleh pipa tranmisi dan distribusi banyak yang bocor dan meteran yang rusak.
  9. Pemberian dan penyaluran beasiswa bagi anak -anak yang putus sekolah terutama bagi anak yang wajib belajar 9 (Sembilan) Tahun
  10. Untuk menghindari dari keributan antar desa perlu dibangun Tapal Batas Desa dengan jelas terutama dengan desa yang menggunakan Tapal Batas Buatan.
  11. Hasil pertanian dijual dengan harga yang sangat rendah karena di beberapa subak maupun subak abian masih ada yang belum punya jalan.
  12. Bidang Pembangunan Desa seperti Kantor Perbekel Desa Kuwum sampai saat ini dalam keadaan rusak berat sehingga untuk pelayanan terhadap masyarakat kurang optimal, sehingga perlu rehab total
  13. Dibeberapa subak belum punya tempat pertemuan / balai subak karena balai subak sangat dibutuhkan untuk tempat pertemuan memecahkan masalah dan program pembangunan.
  14. Supaya acara keagamaan dapat berjalan dengan baik perlu perbaikan – perbaikan tempat ibadah.

 

Strategi Pencapaian

Dari rencana pembangunan yang telah ditetapkan perlu dilakukan langkah – langkah atau Strategi Pencapaian adalah sebagai berikut :

  1. Pendekatan kepada orang – orang yang mempunyai ekses ke Pemerintah Pusat baik itu lewat Politik / Perwakilan kita yang duduk di Pusat, dan Khususnya melalui pembuatan Proposal – Proposal untuk Program PNPM, P2SPP dan Bantuan Langsung Masyarakat lainnya
  2. Selaku Perbekel selalu akan mengadakan pendekatan dan koordinasi dengan orang – orang yang duduk di Legislatif dan Eksekutif, baik di Propinsi maupun di Kabupaten mengingat di semua kantor atau bagian eksekutif dalam hal ini dinas – dinas yang ada punya dana dan program untuk membangun dan mensejahtrakan masyarakat.
  3. Selaku Pemerintah Desa dalam hal ini, Perbekel dan BPD selalu akan mengunakan Anggaran Desa (APBDes) dengan sebaik – baiknya, baik untuk anggaran Rutin maupun Anggaran Pembangunan se-efisien mungkin demi cepatnya pelaksanaan pembangunan dan mensejahterakan masyarakat kami sesuai dengan RPJM – Desa ini
  4. Untuk mempercepat proses pembangunan di Desa kami selaku pemerintahan Desa akan tetap selalu bekerja sama dan bergandengan dengan orang-orang Pihak III (Ketiga) dan masyarakat yang punya potensi untuk membangun desa

 

PENUTUP

Propil Desa Kuwum adalah dokumen perencanaan pembangunan untuk yang memuat arah kebijakan pembangunan desa, strategi pembangunan desa dan program kerja desa dengan mengacu pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Tabanan.

Profil ini dibuat untuk menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, dan pengawasan, keberhasilan dari perencanaan pembangunan ini adalah merupakan pertanggung jawaban bersama antara Pemerintah Desa, dan warga masyarakat Desa Kuwum, hasilnya harus dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat secara lebih merata dan berkeadilan sebagai perwujudan peningkatan kesejahteraan lahir dan batin.

Dalam pelaksanaannya, perlu adanya pengkajian ulang dari tahun ke tahun terhadap pencapaian tujuan dan sasaran kegiatan pembangunan yang telah ditetapkan dalam rencana, agar efektifitas pelaksanaan yang telah ditetapkan dalam rencana. Agar efektifitas pelaksanaan dapat ditingkatkan secara terus – menerus.

 

Desa Kukuh

Posted by on Jun 4, 2013 in Profil Desa | 0 comments

Desa Kukuh

DESA  KUKUH

Pemerintahan

Desa Kukuh berada dalam lingkup Kecamatan Marga. Desa dengan jarak tempuh 15 menit  dari kota kecamatan dan kabupaten ini atau sekitar 5 km, memiliki luas wilayah sekitar 350.24 Ha  Batas –batas desa Kukuh  meliputi  :   utara; Desa Tegaljadi dan Desa Kuwum, selatan; Desa Banjar Anyar, timur; Desa Batannyuh, Desa Peken Belayu dan Desa Beringkit, barat; Desa Tegaljadi dan Desa Banjar Anyar. Desa Kukuh disahkan menjadi desa pada tahun 19…. berdasarkan SK…… Dari segi pemerintahan, desa Kukuh terbagi atas 8 dusun yaitu : dusun Lodalang, dusun Tengah dusun Munggal, dusun Dalem Kerti, dusun Batanwani, dusun Tegal, dusun Denuma, dan dusun Tatag. Saat ini (bedasarkan sensus penduduk tahun  2010  penduduk Desa Kukuh berjumlah: 5012 orang , dengan jumlah KK : 1608. Saat ini fasilitas yang ada di desa Kukuh antara lain : 1 buah Kantor Desa, 1 buah Wantialan Serbaguna, 12 buah Balai Banjar, 1 buah Pasar Desa  1 buah Puskesmas II Marga,1buah SMP.N 2 Marga , 3 sekolah dasar  ,  2 buah TK dan I buah Kelompok Bermain PAUD Kartini.yang tersebar di beberapa dusun. Untuk tenaga kesehatan, di desa Kukuh terdapat beberapa tenaga medis, antara lain :

No Nama Petugas Medik Dokter/ Bidan Waktu praktek Alamat No telp
1 Dr.Inyoman Suarjana Dokter Umum 17.00-20.00 Br. Denuma -
2 Dr.IGB.Kurniawan Dokter Umum 17.00-20.00 Br. Amerta Sari 0361.7496690
3 Dr.IB. Wisnu Wardana Dokter Umum 17.00-20.00 Br. Munggal 081338440884
4 Ni Made Sri Nadi Bidan 17.00-20.00 Br. Munggal 0361.7983657

 

Kondisi Geografi

Dari segi geografi, desa Kukuh  merupakan daerah perdagangan, dengan jumlah warung/toko 259 buah,baik yang berada di Obyek Wisata Kedaton  .Selain itu Desa Kukuh memiliki : 1 buah LPD, 2 buah Koperasi serta 7 buah bengkelmobil/sepeda motor . Selain itu, daerah ini juga menghasilkan tanaman kebun lainnya seperti sayuran, kelapa,dll. Selain itu daerah ini di masyarakat juga telah terbentuk kelompok –kelompok  tani yang pada akhirnya akan bisa meningkatkan pendapatan masyarakat seperti kelompok tani ikan, kelompok ternak, dll yang kesemuanya telah bergabung dalam gapoktan ( gabungan kelompok tani….. ) Desa Kukuh, mata pencariannya sebagaian besar sebagai pedagang  cendra mata seperti lukisan, lukisan telur, dulang kaca dan Kendang dari bambu,  disamping itu juga masyarkat Desa Kukuh adalah sebagai Petani  adapun jumlah lahan sawah seluas : 216 Ha dan Tegalan seluas : 55 Ha.

 

Kondisi demografi

Dari segi kependudukan, jenis pekerjaan masyarakat masih didominasi  sebagian besar sebagai pedagang (kalau ada datanya, mohon ditampilkan juga ). Saat ini, dusun Lodalang merupakan sentra industry kerajinan pembuatan dulang kayu yang  ornamen hiasan  kaca, yang cukup banyak menyerap tenaga kerja utamanya dari kalangan ibu-ibu rumah tangga , dan lukisan wajah dari kain kanpas serta telur. Dusun Tengah  dan Dusun Tatag ada yang  membuat alat-alat rumah tangga dan alat pertanian dari logam ( pisau, pacul, cangkul,dll), Selain itu, di Dusun Munggal ada pabrik yang mengolah beras menjadi tepung Dewi Sri, di Dusun Dalem Kerti, Batanwani dan Tegal masyarakatnya sebagai pengrajin bambu dan ukiran kayu , di Dusun Denuma masyarkatnya sebagai pemahat batu padas dan ukiran kayu/stil bali  disamping pengrajin anyaman bambu. Di Desa Kukuh juga terdapat dua serkel kayu  yang cukup besar dan banyak menyerap  tenaga karja.

 

Realigi, budaya, dan kesenian:

Dari faktor religi, sebagan besar masyarakat Kukuh menganut agama Hindu. Namun dengan kondisi sekarang, terdapat beberapa persen saja penduduk yang beragama Islam, hal ini dikarenakan adanya penduduk pendatang yang tinggal sementara diwilayah desa Kukuh  yang bekerja pada sektor buruh. Di Desa Kukuh tepatnya di Banjar Dinas Batanwani  terdapat  2 KK warga Asing dan  2 KK sudah menjadi Warga Negara Indonesia ( WNI ) yang sudah memiliki rumah tinggal.

Di Desa Adat Kukuh dulu ada dua buah Desa Dinas yaitu : Desa Kukuh yang meliputi Br. Dinas Lodalang, Br. Dinas Tengah dan Br. Dinas Munggal, dan Desa Batanwani  meliputi : Br. Dinas Batanwani, Br. Dinas Tegal dan Br. Dinas Denuma,  pada tahun 1961 bertempat di jaba pura Hyang teja banjar Dinas Batanwani  tokoh-tokoh masyarakat Desa Batanwani yang difasilitasi oleh Bapak Pungawa bahwa Desa yang berada di sebelah barat yeh ge akan bergabung, tetapi sampai saat ini Desa Tegaljadi masih ada. Pada tahun 1967 Br. Dinas Tengah mekar  menjadi Br. Dinas Tatag dan pada tahun 2010 Br. Dinas Batanwani mekar menjadi Br. Dinas Dalem Kerti.

Selain itu di Desa Adat Kukuh terdapat juga Pura pada saat piodalan tidak memakai api dan ceniga Pura itu adalah Pura Kedaton, pujawalinya pada hari Selasa Keliwon ( Anggara Kasih ) wuku Medangsia, Pura Luhur Gonjeng yang keberadaannya sebagai Pura Cagar Budaya dan Pura Luhur Ulundanu sebagai pura penyungsungan Desa Adat Kukuh bagi para petani, disini kami sampaikan sejarah pura tersebut  :

 

Sejarah Pura Kedaton.

Pura Kedaton ini sekarang lebih dikenal dengan sebutan “ Pura Alas Kedaton “ dan pemberian nama ini mungkin disebabkan karena Pura ini kini kenyataannya memang berada di tengah – tengah sebuah semak –semak. Pura atau Kayangan ini berlokasi dan terletak ini berlokasi dan terletak diwilayah Desa Kukuh, Kecamatan Marga Kabupaten Tabanan dan Pura atau Kayangan ini bersetatus sebagai salah satu penyungsungan jagat. Pura Kedaton ini dibangun oleh Mpu Kuturan atau Mpu Rajakretha pada jaman pemerintahan Raja Cri Masula Masuli, sedang Raja Cri Masula Masuli menurut bunyi prasasti Desa Sading, Kecamatan Mengwi ,Kabupaten Badung disebutkan mulai bertahta pada tahun isaka  1100 ( tahun 1178 M ). Prasasti tersebut memakai tahun isaka 1172 ( tahun 1250 M). Yang menyebutkan pula bahwa Raja Cri Masula Masuli ini berkuasa di Bali selama 77 tahun, yang berarti pemerintahannya berakhir pada tahun isaka 1177 atau 1255 M.

Mengenai asal mula dibangun Pura Kedaton ini beserta pura-pura lainnya, di dalam lontar usana bali antara lain disebutkan sebagai berikut :

Sira Mpu Kuturan ingaranan sira mpu Rajakretha, mahyun ta angawe Parhyangan kabeh, sane kagawa wite sakeng majapahit, kaunggahang ring bali kabeh, Bhatara ring Besakih, Bhatara ring Batumadeg, Bhatara ring Batumanyemeng, Bhatara ring Pintuaji, Bhatara ring Kadaton, Bhatara ring Tengah Mel, Bhatara ring Tulukbiyu, Bhatara ring Tampurhyang, Bhatara ring Batukaru, Bhatara ring Bantiran, Bhatara ring Pujungan, Bhatara ring Hulu Watu, Bhatara ring Manisan, Bhatara ring Cakenan, Bhatara ring Margalaya, Bhatara ring Limangsanak, Bhatara ring Delod Peken, Bhatara ring Panghulun Gelgel. Mangkana pasembahan sang Ratu Bali kagawa olih Mpu Rajakretha, apa madegan Cri Dalem Masula Masuli, duk amutering sira ring Pejeng …… dan seterusnya.

Arti bebasnya kira-kira demikian : Mpu Kuturan disebut juga Mpu Rajakretha, berkenaan beliau membangun Pura atau Kayangan semua, yang asal dibawa dari Majapahit ( Jawa Timur ), diterapkan di Bali seluruhnya, yaitu  : Bhatara di Besakih, Bhatara di Batumadeg, Bhatara di Batumanyeneng, Bhatara di Pintuaji, Bhatara di Kedaton, Bhatara di Tengah Mel, Bhatara di Tulukbiyu, Bhatara di Tampurhyang, Bhatara di Batukaru, Bhatara di Bantiran, Bhatara di Pujungan , Bhatara di Hulu Watu, Bhatara di Manisan, Bhatara di Cakenan, Bhatara di Margalaya, Bhatara di Limangsanak, Bhatara di Delodpeken, Bhatara di Panhulun Gelgel. Demikian persembahan Raja Bali dibawa oleh Mpu Rajakretha, tatkala bertahtanya Raja Cri Masula Masuli yang berkedudukan di Pejeng ………. dan seterusnya.

Sedang mengenai bertahtanya Raja Cri Masula Masuli di Bali, di dalam Bhuwana Tatwa Maharsi Markandya antara lain disebutkan demikian :  Yan pira lawas ira Dalem Bhatara Guru anyeneng Ratu ring Bali, moga awija sira karwa kembar buncing. Ikang laki-laki ngaran sang Dhana Dhira jaketana, mwang kang stri ngaran sang Dhana Dewiketu. Ri wus moksa sira Bhatara Guru Adhikunti ketana, ikang puspa sariran ira dinarmeng i Candi Manik mandaleng Hyang Putih i Srokadan.

Apan wus tutug dewasan ira sang putra buncing ika, tumuli ta sang karwa ika winiwah akna, ngaran binuncing aken, saha ingadeg aken Ratu nyakrawarti ring Bali inabhiseka sira Bhatara Paramecwara Cri Wirama nama Ciwaya, Cri Dhana Dhiraja lancana, kalih Raja Wanitan ira Paduka Bhatari Cri Dhana Dewiketu. Mwah sang rwa iki inucap aken Mahecwara Mahecwari ngaran, Mahasora Mahasori ngaran, mwah inucap aken de wang Nusantara Mahasula Mahasuli ngaran mwah Masula Masuli. Ika linumrah aken ring Bali mwang Nusantara, hanane Ratu Masula Masuli, kateka tekeng mangke ………. dan seterusnya.

Artinya lebih kurang demikian:Entah berapa lama Dalem Bhatara Guru bertahta sebagai Raja di Bali,lalu berputera beliau 2 orang kembar buncing.Yang laki-laki bernama sang Dhana Dhiraja ketana,dan yang perempuan bernama sang Dhana Dewiketu.Sesudah wafat Bhatara Guru Adhikunti ketana,jasad beliau dicandikan di Candi Manik di daerah Hyang Putih di Srokadan.

Oleh karena sudah cukup dewasa putera yang buncing itu,lalu mereka berdua itu dikawinkan disebut dibuncingkan,serta dinobatkan sebagai Raja berkuasa di Bali dengan nama Bhiseka(penobatan)beliau Bhatara Pramecwara Cri Wirama nama Ciwaya,Cri Dhana Dhiraja lancana,dan Raja wanitanyaPaduka Bhatari Cri Dhana Dewiketu.Dan keduanya ini disebutkan Mahecwara Mahecwari namanya,Mahesora Mahesori disebut,dan juga disebutkan oleh orang Nusantara mahasula Mahasuli namanya dan Masula Masuli.itu dibiasakan di Bali dan Nusantara,tentang adanya Raja Masula Masuli,sampai sekarang………dan seterusnya.

Pura Kedaton ini menghadap ke Barat,dimana terdapat 4 buah”pamedal”(pintu) sebagai tempat masuk dan keluar dan merupakan hal yang istimewa,karena pada Pura atau Kahyangan lainnya tidak lazim dijumpai,yaitu:

Dari arah Barat terdapat sebuah pemedal(pintu)dalam bentuk Candi Bentar sebagai tempat masuk dan keluar ke dan dari Jaba Tengah.

Dari arah samping Utara terdapat sebuah pemedal (pintu) sebagai tempat masuk dan keluar ke dan dari Jaba Tengah.

Dari arah samping Selatan  terdapat sebuah pemedal (pintu) sebagai tempat masuk dan keluar ke dan dari Jaba Tengah.

Dari arah belakang yaitu Timur terdapat sebuah pemedal (pintu) sebagai tempat masuk dan keluar ke dan dari Jaba Tengah.

Halama Pura atau Kahyangan ini memiliki keunikan yaitu halaman Jeroan letaknya lebih rendah dari halaman jaba tengah, dan di dalam Pura atau Kahyangan ini disamping terdapat pelinggih-pelinggih  ( Bangunan Suci ) sebagaimana halnya Pura – pura atau Kahyangan lainnya, juga terdapat “ Lingga “ dan “ Arca “ serta  2 (dua) buah diantaranya ialah :

Arca ( patung ) “ Durgha Mahisacura Mardhani “ bertangan 8 ( delapan ) buah yang pada tangan kanannya dari atas ke bawah masing – masing memegang “ Camara “ ( penghalau lalat ), “ Sara “ ( panah ), “ Pisau besar “ dan memegang ekor lembu. Sedang empat buah tangan kirinya dari atas ke bawah masing-masing memegang “ “ Kadga “ , “ Busur Panah “, “ Trisula “ dan “ Gadha “ . Arca  ( patung ) ini berdiri di atas seekor lembu, memakai penutup dada dan lancingan ( kancut ) yaitu ujung kain yang cukup panjang.

Arca ( patung ) Ghanesya duduk di atas kembang “ Tunjung “ ( teratai ) dan 2 ekor naga ( Ular ), dimana tangan kanannya memegang  ” tasbih “ serta tangan kirinya memegang  “ Kapak dan belalai “, dengan “ Ekadanta “ ( taringnya hanya satu ). Ada dugaan bahwa 2 ekor naga ( Ular ) tersebut adalah merupakan candra cangkala yang berbunyi “ Dwi Naga Ghana Tunggal “

Pangempon ( pangemong ) Pura Kadaton ini adalah Desa Adat Kukuh, sedang menurut bunyi lontar Usana Bali sebagaimana sudah diungkapkan didepan PURA KADATON ini adalah berstatus penyungsungan jagat.

Demikianlah antara lain disebutkan tentang asal usul berdirinya Pura Kadaton ini, yang dibangun oleh Mpu Kuturan atau Mpu Raja Kretha pada zaman pemerintahan Raja Cri Masula Masuli berkuasa di Bali. Kami lampirkan pula berupa CVD yang memuat tentang prosesi upacara / upakara benbentuk film  ( Sekala Niskala Pura Kedaton ).

 

Sejarah Pura Luhur Gonjeng ( Pura Cagar Budaya )

 

PURWACANA / KAPING AJENG

( PENDAHULUAN )

Pura Luhur Gonjeng puniki, sakewentennyane sangkan saking pemargin sejarah sane dahat sengka pisan tur akudang warsa sane sampun langkung, nyantos ameniki sampun sakewantennyane sajeroning palinggih kadi mangkin, Duk sane nguni Pura puniki tan wenten tios sangkan tanah alas sane tenget pisan tur saking wates utawi Genah patok batu sane dados kajekawuhing alas tur genah ngerastiti Ida Betara Siwa Pati utawi Ida Betara Manik Kumawang.

Sangkan daging kedarman tan dados kaungkulin antuk pemargin kedurhakan, ri sampun akudang warsa sane sampun-sampun macihna ring sajeroning pamargi macihna pisan wawidangan genahe puniki dados genah mawa krama wawidangan sang nata.  Asapunika saking genah puniki presida ngawetuang wibawa alas sane kantun tur prasida saking genah puniki sida pacang nudonang pari krama kramaning sukertan Bwana Agung kalawan Bwana Alit tur sampun presida mawit saking tanah alas dados sampun palinggih panyungsungan jagat kadi mangkin.

Punika mawit saking pemargin sejarah sane sampun lami sinami, ngalimbak ngantos jangkep sajeroning manggala Desa, Prajuru Pura, Pemangku, Serati antuk sangkan jejer wit kasidian Ida Betara ngawentenang pasubakti sane langgeng ngardi utawi nyungsung Palinggih Pura Luhur Gonjeng Puniki. Selengkapnya ada pada Copy Pura Luhur Gonjeng, SK. Cagar Budaya, Benda – benda Cagar Budaya,  terlampir termasuk juga foto-foto Album.

 

Sejarah Pura Luhur Ulundanu

Berdasarkan penuturan dari para penglingsir, bahwa keberadaan pura Luhur Ulundanu tersebut merupakan satu-satunya  pura yang diempon oleh Krama Desa Adat Kukuh yang manifestasi beliau dipuja sebagai pelindung terhadap keberhasilan pertanian yang ada disekitar Desa Adat Kukuh. Konon  pura Luhur Ulundanu memiliki ancangan berupa tikus. Disamping itu Pura ini juga memiliki hubungan yang erat dengan Pura Luhur Ulundanu Beratan, dengan bukti adanya Goa yang katanya tembus ke Danau Beratan. Adapun pujawali di Pura ini jatuh pada Purnamaning Sasih Kelima. Demikian pula pura Luhur Ulundanu dilihat dari letrak geografisnya terdiri dari Tri Mandala dimana di Utara ( Hulu ) terdapat telaga yang luasnya kira – kira  65 Are. Telaga ini diyakini merupakan tempat suci dan sampai saat ini masih dijaga kelestariannya disampaing sebagtai tempat memelihara ikan : seperti ikan Kaper, Lele, Nila dll. Bersama ini juga kami lampirkan VCD  tentang keberadaan pura Luhur Ulundanu beserta Karya .

 

Dari segi kesenian beberapa tempat di desa Kukuh memilki kelompok kesenian sbb :

Wayang Kulit.

Wayang kulit yang terdapat di Banjar Dinas Tengah dengan nama Dalang I Gusti Ketut Sudiarta, di Banjar Dinas Batanwani nama Dalang Ida Bagus Putu Wirawan dan di Banjar Dinas Tatag dengan dalang I Ketut Sadra.

Sekaa Gong

Di Desa Kukuh terdapat beberapa sekaa gong yang sebarannya di Banjar Menalun, Lodalang, Mekar Sari, Amerta Sari, Munggal, Dalem Kerti, Batanwani, Tegal, Denuma dan Banjar Tatag.

Sekaa Angklung.

Untuk kesenian ini terdapat di banjar  Munggal dan Banjar Dalem Kerti.

Sekaa Rindik

Sekaa ini terdapat di Banjar Munggal, Lodalang, Batanwani, Tegal.

Sekaa Gender

Kesenian ini terdapat di banjar Tatag, Pande, Munggal.

Sekaa Gambang

Gambelan ini termasuk sangat langka dan sakral dan hanya satu-satunya yang ada di Desa Kukuh terdapat di Banjar Tegal.

 

Potensi wisata

Secara khusus, Desa Kukuh,  memiliki tempat wisata Alas Kedaton  Namun, sebenarnya perlu lagi pengembangan wisata alternative  jalan trekking dari Parkir Obyek Wisata menuju Banjar menalun terus memasuki lahan persawahan menuju Banjar Tatag kemudian ke utara memasuki Banjar Denuma dan masuk ke Banjar Tegal terakhir menuju Banjar Batanwani ke utara sampai di Pura Luhur Ulun Danu.

peta-desa-kukuh-1